MEDAN, ForestEarth.id – Peluncuran buku autobiografi Panut Hadisiswoyo: Berdiri di Garis Terakhir tidak hanya menjadi perayaan atas perjalanan seorang pegiat konservasi. Forum itu berkembang menjadi ruang refleksi para tokoh lingkungan dan masyarakat sipil yang membahas keberlanjutan gerakan konservasi, mulai dari pentingnya regenerasi, dokumentasi pengalaman aktivis, hingga menjaga independensi organisasi masyarakat sipil di tengah dinamika kebijakan.
Jurnalis Rizanul Arifin kembali menegaskan pandangannya mengenai judul buku biografi Panut Hadisiswoyo, Garis Terakhir. Menurutnya, perjuangan seorang aktivis tidak pernah benar-benar berakhir sehingga istilah “garis terakhir” masih layak dipertimbangkan kembali pada edisi berikutnya.
Hal itu disampaikannya dalam sesi penutup diskusi peluncuran buku biografi pendiri Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) tersebut. Rizanul mengatakan dirinya tidak menyalahkan penulis maupun Panut atas pemilihan judul tersebut. Namun, sebagai orang yang bergelut di dunia media, ia memandang sebuah judul memiliki makna yang kuat dalam membentuk persepsi pembaca.
“Saya tidak menyalahkan penggunaan judul Garis Terakhir. Berdiri di garis terakhir itu memang berat. Tetapi menurut saya, ini masih bisa diperbaiki pada edisi berikutnya,” katanya, Jumat (17/7/2026).
Ia berharap perjalanan hidup Panut tidak dipahami sebagai kisah yang telah selesai. Menurutnya, masih banyak fase kehidupan yang akan dijalani, termasuk penyelesaian studi doktoral yang sedang ditempuh Panut. “Mudah-mudahan tahun depan studi doktoralnya selesai. Setelah itu tentu akan ada lagi perjalanan baru yang layak dituliskan,” ujarnya. Rizanul bahkan membayangkan akan hadir buku lanjutan yang menceritakan fase baru kehidupan Panut setelah buku pertama ini.

“Kalau nanti ada buku berikutnya, jangan lagi Garis Terakhir. Bisa saja judulnya Sesudah Garis Terakhir atau Melewati Garis Terakhir. Cerita seorang pejuang tidak pernah berakhir. Itu sebabnya saya tidak pernah menyukai kata ‘terakhir’,” tutupnya.
Jurnalis senior Yulhasni mengajak para pegiat organisasi masyarakat sipil mulai mendokumentasikan perjalanan hidup dan pengalaman advokasi mereka sebagai warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya. Menurut Yulhasni, buku seperti yang ditulis tentang Panut merupakan dokumentasi penting yang tidak hanya mengisahkan perjalanan seseorang, tetapi juga merekam sejarah gerakan masyarakat sipil.
Karena itu, ia mendukung usulan agar buku-buku semacam ini didigitalisasi sehingga dapat diakses lebih luas. “Saya sependapat agar karya-karya seperti ini didigitalisasi. Dengan begitu, ia akan menjadi referensi yang jauh lebih mudah diakses,” katanya.
Ia juga menilai pengalaman para aktivis senior perlu didokumentasikan melalui autobiografi maupun catatan perjalanan. Yulhasni secara khusus mendorong Edy Ikhsan dan Soekirman untuk menuliskan pengalaman hidup mereka. “Banyak orang mengenal nama Bang Edy maupun Om Kirman, tetapi tidak banyak yang mengetahui perjalanan perjuangan mereka. Pengalaman itu perlu dituliskan,” ujarnya.
Menurutnya, kisah para aktivis merupakan sumber inspirasi yang tidak ternilai bagi generasi muda. Selain itu, Yulhasni juga mengingatkan organisasi masyarakat sipil agar mulai membangun arsip sejak dini. Ia mendorong para aktivis menyimpan foto, dokumen, maupun catatan kegiatan sebagai bagian dari sejarah gerakan.
“Pengalaman para aktivis di lapangan merupakan sumber inspirasi yang sangat berharga bagi generasi berikutnya. Jangan tunggu semuanya terlupakan. Mulailah mendokumentasikan perjalanan gerakan dari sekarang,” ujarnya.
Direktur Eksekutif YOSL-OIC, Syafrizaldi Jpang menegaskan perjuangan konservasi tidak akan berhenti pada satu tokoh ataupun satu generasi. Pria yang juga akrab dipanggil Aal ini sempat melontarkan candaan mengenai judul buku dan foto sampul yang menampilkan Panut sedang duduk.
“Tadi saya sempat berpikir, mungkin judulnya bisa saja Berdiri di Garis Depan. Tapi saya lihat fotonya justru sedang duduk. Mungkin sudah capek berdiri,” ujarnya yang disambut tawa peserta.
Di balik candaan tersebut, Aal menyampaikan pesan serius mengenai keberlanjutan gerakan konservasi. “Perjuangan ini belum berhenti dan mungkin tidak akan pernah berhenti. Bahkan ketika kita nanti sudah tidak ada, perjuangan itu akan tetap berjalan,” katanya.
Ia menilai para tokoh senior yang hadir dalam peluncuran buku merupakan bukti bahwa gerakan masyarakat sipil terus bertahan melewati berbagai zaman dan tantangan. Menurut Aal, estafet perjuangan kini harus diteruskan oleh generasi yang lebih muda. “Saya percaya masih banyak anak-anak muda yang hari ini berusia dua puluhan yang akan melanjutkan perjuangan ini,” ujarnya.
Ia berharap buku biografi Panut tidak hanya menjadi catatan perjalanan seorang aktivis, tetapi juga mampu menginspirasi lahirnya generasi baru yang bersedia melanjutkan kerja-kerja konservasi. “Perjuangan tidak berhenti pada satu orang. Ia akan terus hidup selama masih ada generasi yang bersedia meneruskannya,” tutupnya.
Akademisi dan pegiat masyarakat sipil Edy Ikhsan mengingatkan pendiri YOSL-OIC, Panut Hadisiswoyo, agar tetap menjaga fokus pada kerja-kerja konservasi yang telah dibangun selama lebih dari dua dekade. Edy mengatakan biografi merupakan ruang untuk merekam pengalaman hidup seseorang sehingga tidak dapat dihakimi dengan ukuran benar atau salah.
“Biografi adalah pengalaman hidup yang dituliskan. Karena itu tidak ada benar atau salah. Kita menghargai pengalaman yang dituangkan dalam buku ini,” katanya.

Jangan Terjebak Politik Praktis
Meski demikian, ia mengaku ingin menyampaikan beberapa catatan kritis yang menurutnya penting bagi perjalanan Panut ke depan. Salah satu hal yang menjadi perhatian Edy adalah refleksi Panut dalam buku mengenai keterlibatannya di ruang-ruang kebijakan, termasuk ketika dipercaya memimpin Dewan Kehutanan.
Menurut Edy, keterlibatan tersebut merupakan bagian penting dari advokasi. Namun, ia mengingatkan agar langkah itu tidak berkembang menjadi keterlibatan dalam politik praktis. “Saya melihat Panut mulai banyak mengambil posisi di ruang kebijakan. Itu baik, tetapi harus dipikirkan dengan matang agar tidak terseret ke politik praktis,” ujarnya.
Ia mengingatkan pengalaman banyak aktivis organisasi masyarakat sipil yang memilih masuk ke partai politik, tetapi kemudian kehilangan arah perjuangan. “Banyak aktivis NGO yang akhirnya masuk ke partai politik. Tetapi setelah itu justru tenggelam dalam dinamika politik yang keras dan meninggalkan gerakan yang selama ini mereka bangun,” katanya.
Karena itu, Edy berharap Panut tetap menjaga independensi gerakan konservasi yang selama ini menjadi ciri khas OIC. Selain soal politik, Edy juga menyoroti semakin banyaknya organisasi yang dipimpin atau diinisiasi Panut. Dalam buku tersebut, Panut tercatat tidak hanya memimpin OIC, tetapi juga terlibat dalam sejumlah organisasi lain, termasuk Green Justice Indonesia (GJI), PT Bentang Alam Sumatera, dan Leuser Conservation Partnership (LCP).
Menurut Edy, semakin banyak organisasi bukan selalu berarti semakin kuat. “Kalau aktivis senior sudah mulai mendirikan banyak NGO, kami dulu sering bercanda, itu sudah menjadi ‘bencana NGO’,” ujarnya disambut tawa peserta.
Ia menjelaskan, organisasi-organisasi tersebut memang lahir dari kebutuhan dan keresahan yang berbeda. Namun, Panut perlu mempertimbangkan kapasitas dan fokus agar tidak terbebani oleh terlalu banyak tanggung jawab. “Saya tahu Green Justice Indonesia lahir karena ada kegelisahan terhadap kebijakan yang belum berpihak pada konservasi. Tetapi bukan berarti setiap persoalan harus dijawab dengan membentuk organisasi baru,” katanya.
Menurut Edy, OIC sendiri telah berkembang menjadi organisasi besar yang membutuhkan perhatian penuh agar tetap berjalan dengan baik.Ia menyarankan agar organisasi-organisasi lain tetap dipertahankan, tetapi pengelolaan sehari-harinya mulai diserahkan kepada generasi penerus. “OIC sudah menjadi organisasi yang sangat besar. Mengelolanya saja bukan pekerjaan yang mudah,” ujarnya.
“Bukan berarti harus mundur dari LCP, Green Justice Indonesia, atau Bentang Alam Sumatera. Tetapi mungkin sudah waktunya fokus utama tetap di OIC, sementara organisasi lain diperkuat sebagai mitra strategis,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, Edy menyampaikan apresiasi kepada Panut dan tim penulis atas terbitnya buku tersebut. Ia berharap pengalaman yang terdokumentasi dalam buku tidak hanya menjadi catatan perjalanan hidup seorang aktivis, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masa depan konservasi di Indonesia.
“Selamat atas terbitnya buku ini. Mudah-mudahan memberikan manfaat yang besar bagi gerakan konservasi dan perlindungan orangutan di Indonesia,” tutupnya.

