Hot Topics

Sumatera Utara Masih Berpotensi Diguyur Hujan hingga Awal Agustus, BMKG Tetap Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Karhutla

JAKARTA, ForestEarth.id – Di tengah menguatnya fenomena El Niño yang menyebabkan musim kemarau semakin meluas di Indonesia, Sumatera Utara masih menjadi salah satu wilayah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang, serta dampak bencana hidrometeorologi, meskipun sebagian besar wilayah Indonesia mulai mengalami kondisi kering.

BMKG mencatat, pada periode 24–27 Juli 2026, Sumatera Utara menjadi salah satu daerah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia, mencapai 128 mm per hari. Hujan lebat juga tercatat di Sumatera Barat (116 mm), Kalimantan Utara (88 mm), Papua (87 mm), dan Aceh (65 mm). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang melintasi Sumatra bagian utara, serta aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang mulai aktif di wilayah Indonesia.

Disebutkan dalam keterangan tertulisnya, dalam prakiraan cuaca periode 28–30 Juli maupun 31 Juli–4 Agustus 2026, Sumatera Utara masih termasuk daerah yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi genangan, pohon tumbang, banjir lokal, dan angin kencang yang dapat menyertai hujan.

Di sisi lain, BMKG mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak mengubah fakta bahwa musim kemarau terus meluas secara nasional. Hasil pemantauan hingga Dasarian II Juli 2026 menunjukkan 509 Zona Musim atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi 92,93 persen wilayah, sedangkan 89,97 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal.

Menguatnya El Niño menjadi faktor utama yang memperparah kondisi kering tersebut. Indeks Niño 3.4 tercatat mencapai +2,26, sementara Southern Oscillation Index (SOI) berada pada -28,2, yang menunjukkan El Niño telah berada pada kategori kuat dan berpotensi terus menguat. Kondisi ini diperkirakan akan menghambat pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dampak musim kemarau mulai terlihat dengan munculnya laporan kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada 24–27 Juli 2026, serta kejadian kebakaran hutan dan lahan di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap menurunnya ketersediaan air, bertambahnya titik panas (hotspot), dan meningkatnya potensi kebakaran pada lahan kering.

Selain hujan, BMKG juga memperingatkan potensi angin kencang akibat pengaruh Siklon Tropis Noul di Laut Filipina yang meningkatkan suplai uap air dan kecepatan angin permukaan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut dapat memicu pohon tumbang, kerusakan bangunan ringan, hingga gangguan aktivitas masyarakat.

BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak, tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api. Bagi daerah yang masih berpotensi mengalami hujan, termasuk Sumatera Utara, masyarakat diminta tetap memantau perkembangan cuaca dan menghindari berteduh di bawah pohon, baliho, maupun bangunan yang rapuh saat terjadi hujan disertai angin kencang.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.