AUSTRALIA, ForestEarth.id – Menteri Energi Australia, Chris Bowen mengatakan pada tahun 2026 akan memberlakukan program Solar Sharer yang menawarkan listrik dari tenaga surya secara gratis kepada rumah tangga yang tidak memiliki panel surya di beberapa negara bagian seperti wilayah tenggara Queensland, South Australia dan New South Wales. Melalui program itu, masyarakat pengguna akan mendapatkannya pada tengah hari yakni saat pembangkitan berada pada posisi tertinggi.
“Orang-orang yang dapat memindahkan penggunaan listrik mereka ke periode daya nol-biaya akan mendapatkan manfaat langsung, baik mereka memiliki panel surya atau tidak, dan baik mereka memiliki rumah sendiri ataupun menyewa. Semakin banyak orang yang memanfaatkan penawaran ini dan mengubah pola penggunaan listrik mereka, semakin besar manfaat sistem yang menurunkan biaya bagi semua pengguna listrik,” kata Bowen.
Dikutip dari Reuters, saat ini, lanjut Bowen di Australia sudah ada sekitar 4 juta rumah yangga yang memiliki panel surya. Saat siang hari cerah, pembangkitan daya dapat mencapai titik di mana harga listrik menjadi negatif. Hanya saja, puncak permintaan sering terjadi beberapa jam kemudian. Hal itu membuat tekanan pada jaringan listrik yang sudah ada. Menurut Bowen, nantinya rumah tangga termasuk yang menjadi penghuni apartemen, akan diberi akses program ini.
Pada tahun 2022, Australia menetapkan target 82% listrik berasal dari energi terbarukan di tahun 2030 dan sudah ditetapkan melalui undang-undang untuk mengurangi emisi sebesar 43% dibandingkan tingkat tahun 2005. Nantinya rumah tangga yang bersedia mengikuti program Solar Sharer harus memiliki smart meter untuk memindahkan penggunaan listrik utama pada tengah hari.
Bagaimana di Indonesia
Dalam acara peluncuran Solar Academy Indonesia di Jakarta Selatan pada Kamis (19/6/2025), Sub Koordinator Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Wildan Fujiansah menjelaskan, berdasarkan catatan hingga Mei 2025, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap menyentuh angka 445,46 megawatt (MW) dengan total pelanggan sebanyak 10.632 orang yang mana paling banyak adalah sektor rumah tangga (63%).
Selama dua tahun ini, kuota PLTS atap khusus yang ditetapkan Kementerian ESDM sebesar 3,9 gigawatt (GW). Memang, PLTS atap paling banyak diinstal di Jawa, Bali dan Sumatera, itu karena infrastruktur yang sudah ada. Sedangkan untuk Sulawesi dan Papua yang mulai menerapkan pendekatan PLTS off grid dan hybrid. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, tercatat total pemanfaatan PLTS atap, PLTS apung, dan PLTS tapak sebesar 1.087 MW.
Wakil Ketua Dewan Pakar Bidang Riset dan Teknologi Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Arya Rezavidi mengatakan, inovasi dan teknologi masih menjadi tantangan di Indonesia dalam hal pemanfaatan PLTS. Hal itu karena sebagian segian besar panel surya masih diimpor dari China. Indonesia, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi pengguna atau target pasar, melainkan juga harus mengejar untuk pengembangan teknologinya.
Dikutip dari laman Institute of Essensial Services Reform (IESR) dalam laporan Residential Rooftop Solar Potential in 34 Provinces in Indonesia, potensi teknis PLTS atap di Indonesia mencapai 194-655 GWp. Potensi itu merata di hampir seluruh provinsi di Indonesia, namun terutama di wilayah timur yang tingkat penyinaran mataharinya tinggi (4,8–6 kWh/m²/hari). Angka itu jauh lebih tinggi dari kapasitas listrik nasional saat ini di angka ~82 GW.
Diketahui, selama ini listrik Indonesia masih memiliki ketergantungan pada energi vosil, yang mana sekitar 62 % listtrik nasional masih bersumber dari batu bara. Sisanya gas dan minyak. Benar saja bahwa dalam laporan Climate Transparency Report (2022) menyebutkan bahwa akibat operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara adalah terjadinya polusi udara yang berdampak pada tingkat kesehatan yang menurun.
