Ayam Kokok Balenggek

Melawan Erosi Genetik: Strategi Pakar Peternakan Unand Jaga Populasi Ayam Kokok Balenggek Agar Tak Punah

PADANG, ForestEarth.id – Ayam Kokok Balenggek, unggas eksotis asal Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok, kini tengah menghadapi ancaman serius. Mulai dari penurunan populasi hingga erosi genetik akibat persilangan tak terkontrol, kualitas suara “balenggek” yang menjadi identitas budayanya perlahan mulai memudar.

Menanggapi hal tersebut, Pakar Bidang Pemuliaan Ternak dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand), Prof. Firda Arlina, menegaskan perlunya langkah ilmiah yang terarah dan partisipatif untuk menyelamatkan aset plasma nutfah kebanggaan Sumatera Barat ini.

Dalam keterangannya di Padang, seperti dilansir dari Antara, Kamis (30/4/2026), Prof. Firda menjelaskan bahwa pelestarian Ayam Kokok Balenggek bukan sekadar menjaga populasi, tetapi mempertahankan kualitas estetika suaranya. Ia mendorong penggunaan teknologi modern, seperti penanda molekuler, untuk memahami hubungan genetik yang memengaruhi kemampuan “bernyanyi” pada ayam tersebut.

“Kita perlu mengkarakterisasi gen-gen tertentu seperti FOXP2, Zenk, hingga reseptor dopamin yang terlibat dalam kemampuan berkokok. Ini adalah modal penting dalam seleksi ternak unggul,” jelas Prof. Firda.

Selain aspek laboratorium, Prof. Firda juga memberikan catatan kritis terhadap kontes atau lomba ayam kokok yang selama ini digelar masyarakat. Menurutnya, penilaian dalam lomba seharusnya berfokus pada kualitas estetika, bukan sekadar kuantitas.

“Lomba ayam kokok balenggek seharusnya menilai kualitas suara dan jumlah lenggek (tingkatan) kokoknya. Tidak boleh tertumpu hanya pada seberapa sering unggas itu berkokok dalam waktu tertentu,” tegasnya.

Ayam yang telah diakui sebagai rumpun ternak Indonesia melalui Kepmentan Nomor 2919/2011 ini memerlukan pendekatan pemuliaan yang tepat, seperti inbreeding, line breeding, maupun outbreeding yang terkontrol.

Prof. Firda menekankan tiga pilar utama pelestarian:

  1. Konservasi In Situ dan Ex Situ: Menjaga ayam di habitat asli maupun di luar habitatnya.
  2. Penguatan Kelembagaan: Melibatkan pemerintah dan akademisi secara aktif.
  3. Peran Komunitas: Menumbuhkan kembali minat generasi muda agar bangga melestarikan identitas budaya lokal ini.

“Pelestarian ini tidak hanya memajukan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat melalui nilai ekonomi tinggi dari ayam hias ini,” pungkasnya.

Leave A Comment