Harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) merupakan predator puncak yang berperan menjaga keseimbangan ekosistem hutan di Pulau Sumatra.

Hutan Menyusut, Mangsa Berkurang, Ancaman Serius Populasi Harimau Sumatera

MEDAN, ForestEarth.id Harimau sumatera (Pantera tigris sumatrae) merupakan satu-satunya subspesies harimau yang masih bertahan di Indonesia. Hanya saja, populasinya semakin terjepit karena hutan yang semakin sempit, satwa mangsa pun berkurang, konflik hingga perburuan. Sebelum terlambat, harus ada upaya serius semua pihak untuk menyelamatkan predator ini dari kepunahan sebagaimana halnya harimau jawa dan harimau bali. 

Dalam keterangan tertulisnya, Prof Ani Mardiastuti, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV. Ia menjelaskan, hilangnya habitat alami dan menurunnya populasi rusa sebagai mangsa utama menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup harimau. “Jumlahnya malahan bukan nambah, bukan tetap, malah menurun. Harimau itu predator, cari makan susah. Hutannya juga sudah semakin sedikit,” ujarnya miris.

Menurutnya, harimau sumatra memiliki posisi penting dalam ekosistem sebagai apex predator atau predator puncak. Keberadaannya menjaga keseimbangan rantai makanan sekaligus stabilitas keanekaragaman hayati di hutan.  Prof Ani menjelaskan bahwa berkurangnya mangsa alami mendorong harimau mendekati permukiman manusia. Kondisi ini sering memicu konflik karena harimau terpaksa memangsa ternak warga.

“Sebetulnya masyarakat bukan anti harimau. Mereka hanya takut karena ternaknya diambil. Di sinilah dilema terjadi antara keselamatan manusia dan pelestarian satwa,” katanya, Rabu (4/3/2026).

Ia menambahkan, pembukaan hutan untuk berbagai kebutuhan pembangunan menyebabkan ruang hidup harimau semakin sempit. Sumatra yang dahulu didominasi hutan kini mengalami perubahan lanskap besar, sehingga satwa liar kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber makanan. Akibatnya, harimau semakin sering ditangkap atau dipindahkan setelah konflik terjadi, yang pada akhirnya mempercepat penurunan populasi di alam liar.

Jika Punah, Keseimbangan Alam Terganggu
Prof Ani menegaskan bahwa kepunahan harimau tidak hanya berarti hilangnya satu spesies, tetapi juga berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Predator puncak berperan mengendalikan populasi satwa herbivora agar tidak merusak vegetasi hutan. “Ada semakin banyak satwa liar, kondisi bumi semakin seimbang. Kalau keseimbangan ini terganggu, dampaknya sering baru terasa puluhan tahun kemudian,” jelasnya.

Ia mencontohkan penelitian di Amerika yang menunjukkan hilangnya predator menyebabkan perubahan besar pada ekosistem hutan. Tanpa predator, populasi mangsa meningkat tak terkendali dan merusak regenerasi tumbuhan. Sebagai upaya konservasi, Prof Ani menekankan pentingnya menjaga habitat serta memastikan ketersediaan mangsa alami seperti rusa. Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak memperdagangkan bagian tubuh satwa liar serta meningkatkan kesadaran publik melalui edukasi dan kampanye konservasi.

“Sebelum terlambat, cobalah kita selamatkan. Konservasi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua,” tutupnya.

Leave A Comment