ACEH TAMIANG, ForestEarth.id – “Rasanya dikasih duit pun enggak berlaku, kami cuma butuh air.” Kalimat getir itu meluncur dari bibir Rita Zahara, salah satu penghuni Hunian Sementara (Huntara) Rumah Hunian Danantara, Aceh Tamiang.
Bagi Rita dan rekannya, Audra, ingatan tentang malam mencekam saat banjir besar melanda Desa Sukajadi masih terekam jelas. Pukul 01.00 WIB dini hari, air tiba-tiba mengepung rumah mereka. Dalam kegelapan yang ditemani deru hujan dan angin kencang, tak ada harta yang sempat diselamatkan, mereka hanya mendekap anak-anak mereka, lari menghindari arus yang menghanyutkan seluruh isi dunia mereka.
Di hari-hari awal pasca-bencana, air bersih menjadi barang yang lebih mewah daripada emas. Rita mengenang betapa memilukannya saat ia harus menatap mata anak-anaknya yang kehausan di tengah genangan lumpur.
“Air kotor semua. Hari kedua itu hujan dan angin, kami terpaksa menampung air hujan dari tenda untuk minum anak-anak. Susah sekali cari air, saat itu uang pun tidak ada gunanya,” kenang Rita dengan mata berkaca-kaca, saat ditemui Kamis (5/3/2026).
Kini, beban hidup Rita dan Audra sedikit teringan. Di jantung pemukiman sementara mereka, tepatnya di area Masjid Darussalam, telah hadir Sumur Bor Artesis.
Sumur sedalam 70 meter ini menjadi “urat nadi” baru. Bukan sekadar fasilitas fisik, sumur ini mengembalikan ritme hidup yang sempat hilang. Dari air jernih yang mengalir inilah, Rita bisa kembali memasak dengan layak, mencuci pakaian keluarga, dan memastikan anak-anaknya mandi dengan air yang sehat.
“Alhamdulillah kali, kami merasa sangat terbantu. Setiap hari air ini kami gunakan untuk kebutuhan harian,” ungkap Rita tulus.
Kehadiran sumur ini merupakan bagian dari aksi nyata dalam mempercepat pemulihan kesehatan warga Aceh. Bagi para ibu seperti Rita, sumur bor ini adalah simbol bahwa mereka tidak sendirian.
Meski kini ia masih menanti kepastian tempat tinggal tetap, setidaknya untuk hari ini, dahaga itu telah terhapus. Air yang mengalir jernih di Masjid Darussalam adalah bukti bahwa di atas puing bencana, harapan selalu bisa tumbuh kembali.