TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id – Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, menegaskan pentingnya penguatan ekonomi berbasis komunitas sebagai strategi menjaga kelestarian hutan dan habitat satwa di lanskap Batang Toru. Hal ini disampaikannya saat kegiatan menghadirkan sejumlah buyer kopi, termasuk dari pasar internasional, ke Desa Marancar Godang, Kecamatan Marancar, Tapanuli Selatan.
Menurut Panut, kehadiran para pembeli ini merupakan bagian dari upaya mengangkat profil Kopi Marancar—yang dikenal sebagai bagian dari Kopi Sipirok—sebagai komoditas unggulan komunitas di Sumatera Utara. Desa Marancar Godang sendiri merupakan desa binaan GJI dalam penguatan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), dengan fokus pada pengembangan komunitas petani kopi.
“Ini adalah langkah untuk mengoptimalkan mata pencaharian masyarakat. Kita ingin Kopi Marancar menjadi salah satu kopi andalan dari Sumatera Utara, bahkan bisa menembus pasar dunia,” ujar Panut, Rabu (15/4/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya mempertemukan petani dengan pasar, tetapi juga membuka peluang kerja sama jangka panjang. Para buyer yang hadir diajak melihat langsung proses budidaya, pengolahan, hingga potensi produksi kopi di wilayah tersebut.
Lebih jauh, Panut menekankan bahwa pendampingan yang dilakukan GJI di kawasan ini memiliki dimensi ekologis yang sangat penting. Wilayah Marancar berada di zona penyangga (buffer zone) dari lanskap hutan Batang Toru, yang menjadi habitat penting bagi Orangutan Tapanuli—spesies orangutan paling langka di dunia.
“Di sini masyarakat hidup di antara kawasan penting seperti Cagar Alam Sibual-buali, Cagar Alam Lubuk Raya, dan hutan Batang Toru blok barat. Mereka berada di tengah tiga populasi orangutan Tapanuli. Karena itu, pendekatan kita adalah bagaimana menguatkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga ekosistem,” jelasnya.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui pengembangan pertanian berkelanjutan, khususnya kopi, sebagai sumber penghidupan utama masyarakat. GJI mendorong peningkatan kualitas kopi, mulai dari penggunaan bibit unggul hingga perbaikan proses produksi yang selaras dengan prinsip konservasi.
“Kopi menjadi komoditas strategis karena punya prospek ekonomi sekaligus bisa dikembangkan dengan prinsip ramah lingkungan. Ini penting untuk mendukung pelestarian habitat orangutan di lanskap Batang Toru,” tambah Panut.
Ke depan, GJI akan terus memperkuat pendampingan kepada petani dan kelembagaan lokal. Program yang dijalankan mencakup penguatan kelompok tani, penyediaan bibit berkualitas, serta peningkatan kapasitas budidaya dan pengolahan pascapanen.
Selain itu, pembangunan akses pasar menjadi fokus utama. GJI berupaya memperluas jaringan pemasaran Kopi Sipirok dan produk hasil hutan bukan kayu lainnya agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
“Ketika masyarakat sudah memiliki kesadaran terhadap pentingnya ekosistem, dan ekonomi mereka juga kuat, maka keberlanjutan itu bisa tercapai. Kita ingin Marancar menjadi model pengelolaan lanskap berkelanjutan—yang mengintegrasikan kepentingan ekologi, kesejahteraan masyarakat, dan perlindungan spesies,” pungkasnya.