TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id — Green Justice Indonesia (GJI) menyerahkan bantuan alat pengolahan kopi kepada kelompok Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Permata Hijau di Desa Marancar Godang, Tapanuli Selatan, Rabu (15/4/2-26).
Program Manager GJI, Sofian Adly, mengatakan bantuan berupa mesin pengolahan kopi (mesin kolor/kupas) diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil kopi petani.
“Bantuan ini kami serahkan kepada kelompok LPHD Permata Hijau. Harapannya dapat bermanfaat dan mendukung kesejahteraan kelompok,” ujarnya.
Dikatakannya, penyerahan ini adalah bagian dari intervensi GJI untuk memperkuat rantai produksi kopi dari hulu ke hilir. Tidak hanya pada aspek budidaya, tetapi juga pengolahan pasca panen yang kerap menjadi titik lemah petani.
Di lapangan, mesin tersebut langsung ditempatkan di dekat area pembibitan dan kantor desa, sehingga mudah diakses oleh anggota kelompok.
Keberadaan alat ini diharapkan dapat memangkas ketergantungan petani pada pihak luar dalam proses pengolahan kopi kering.
Bagi LPHD Permata Hijau, dukungan ini bukan sekadar bantuan alat, tetapi bagian dari proses panjang membangun kemandirian ekonomi berbasis hutan desa yang berkelanjutan.
Agus Parulan Siregar, petani sekaligus anggota LPHD Permata Hijau, menjelaskan bahwa saat ini mereka masih berada pada tahap awal pengembangan kopi, terutama pada pembibitan.
“Sekarang ini kita masih di tahap pembibitan dari bibit yang diberikan GJI,” katanya.
Menurut Agus, proses pembibitan dimulai dari biji yang disemaikan, kemudian dipindahkan ke polybag setelah berkecambah. Bibit baru bisa ditanam di lahan setelah berusia sekitar lima bulan atau memiliki 5–7 helai daun.
Saat ini, kelompoknya mengelola sekitar 3.000 bibit kopi, meski belum semuanya masuk ke polybag. Sementara luas lahan kopi yang dimiliki petani di desa tersebut rata-rata mencapai hampir dua hektare per keluarga.
Namun, tantangan utama masih berkutat pada keterbatasan bibit dan akses pasar. “Masalah pembibitan masih kurang, karena banyak masyarakat yang ingin menanam kopi, terutama robusta,” ujarnya.
Selain itu, fluktuasi harga dari tengkulak juga menjadi persoalan klasik. “Harga dari toke kadang beda-beda. Kami berharap ada pembeli yang lebih pasti dan menguntungkan,” tambahnya.
Agus juga menyoroti pentingnya pendampingan teknis bagi petani, mulai dari perawatan hingga pemupukan. Ia berharap ada tenaga penyuluh lapangan yang bisa mendampingi secara langsung.