Deni Parlindungan Lumbantoruan menyampaikan komitmen Pemkab Tapanuli Utara dalam mendukung pengelolaan hutan adat yang berkelanjutan dan produktif.

Wakil Bupati Tapanuli Utara Ungkap Potensi Kemenyan, Simardangiang Bisa Dijadikan Role Model

TARUTUNG, ForestEarth.id — Wakil Bupati Tapanuli Utara, Deni Parlindungan Lumbantoruan mengungkap besarnya potensi komoditas kemenyan di Tapanuli Utara. Berdasarkan data lapangan, terdapat sekitar 2 juta pohon kemenyan yang dikelola oleh sekitar 4.200 petani. Menurutnya, masyarakat adat Simardangiang bisa dijadikan role model. 

Hal tersebut diungkapkannya saat Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan Dokumen Perencanaan dan Pengelolaan Wilayah Adat Simardangiang, di Tarutung, Tapanuli Utara (21/4/2026). 

Namun, hanya sekitar setengahnya yang produktif, dengan total produksi diperkirakan sekitar 800 ton per tahun. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 8.000 ton. 

Ia menjelaskan, perbedaan ini disebabkan oleh perubahan metode pendataan, dari yang sebelumnya berbasis citra satelit menjadi pendataan langsung ke petani.

Meski demikian, pemerintah daerah optimistis produksi kemenyan masih dapat ditingkatkan hingga dua kali lipat, melalui optimalisasi pohon yang belum produktif serta perluasan budidaya.

Selain itu, Pemkab Tapanuli Utara juga membuka peluang pengembangan rantai distribusi, termasuk pemanfaatan simpul transportasi seperti Bandara Silangit guna memperluas akses pemasaran kemenyan.

Di akhir, Deni menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh pengembangan MHA, sekaligus mendorong Desa Simardangiang menjadi model bagi wilayah lain.

“Apapun yang direncanakan oleh masyarakat, kami siap mendukung. Harapannya Simardangiang bisa menjadi role model MHA di Tapanuli Utara,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Deni Parlindungan Lumbantoruan, mengapresiasi perkembangan Desa Simardangiang yang dinilai selangkah lebih maju dibandingkan wilayah lain dalam pengelolaan masyarakat hukum adat (MHA).

Menurutnya, desa tersebut telah memiliki sejumlah fondasi penting, mulai dari fasilitas pembibitan kemenyan, sistem perdagangan, hingga praktik transaksi yang mulai tertata.

“Simardangiang ini sudah satu langkah di depan. Tinggal kita sinkronkan dengan perencanaan yang ada agar bisa didukung lebih maksimal,” ujarnya.

Meski demikian, Deni mengingatkan agar upaya hilirisasi produk tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Ia menilai masyarakat tidak perlu langsung menargetkan produk akhir yang sulit bersaing di pasar.

“Kita jangan langsung mengejar produk akhir. Lebih baik tentukan posisi di rantai produksi yang realistis, misalnya pada tahap bahan baku atau produk antara,” katanya.

Leave A Comment