JAKARTA, ForestEarth.id – Pemerintah Indonesia mulai tancap gas dalam mereformasi pengelolaan taman nasional. Melalui Satuan Tugas (Satgas) Pembiayaan Inovatif, Indonesia menggandeng Pemerintah Inggris untuk menciptakan sistem pendanaan mandiri yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kas negara.
Dalam pertemuan yang berlangsung di Jakarta, Selasa (21/4), Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyambut dukungan dari utusan khusus Inggris untuk alam, Ruth Davis, dan Dubes Dominic Jermey.
Langkah besar ini diawali dengan komitmen pendanaan yang nyata dari kedua belah pihak:
Pemerintah Inggris: Mengalokasikan 2 juta poundsterling untuk mendukung inisiatif teknis dan jejaring filantropi.
Pemerintah Indonesia: Mengucurkan 120 juta dolar AS dari APBN khusus untuk penguatan Taman Nasional Way Kambas.
“Ini adalah komitmen nyata di tengah tekanan finansial global. Kita harus mengubah taman nasional yang selama ini menjadi cost center (pusat biaya) menjadi lebih mandiri,” tegas Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, seperti dilansir dari Antara, Jumat (24/4/2026).
Menteri Kehutanan memaparkan lima langkah konkret untuk mengoptimalkan 57 taman nasional di Indonesia yang mencakup luas 18 juta hektare:
1. Status BLU (Badan Layanan Umum): Mengubah status agar pendapatan dikelola secara mandiri dan profesional. TN Komodo, TN Bromo Tengger Semeru, dan TN Gunung Rinjani akan menjadi pilot project.
2. Peningkatan Kapasitas: Penguatan manajemen internal dan profesionalisme Polisi Hutan.
3. Lembaga Pembiayaan Khusus: Memaksimalkan peran IBiofund di bawah pengelolaan BPDLH.
4. Kesejahteraan Masyarakat: Mengedepankan partisipasi warga lokal dan pembagian manfaat yang adil.
5. Perlindungan Koridor Satwa: Implementasi konservasi berbasis area efektif lainnya (OECM).
Pihak Inggris memuji kepemimpinan Indonesia dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Ruth Davis menyatakan bahwa Inggris siap membantu lewat:
Keahlian Teknis: Berbagi pengalaman pengelolaan lingkungan yang berintegritas tinggi.
Akses Pendanaan Global: Menghubungkan prioritas Indonesia dengan sektor swasta dan filantropi internasional di pusat keuangan dunia, City of London.
Keberlanjutan Kerja Sama: Memperkuat inisiatif yang sudah ada, seperti Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI).
Kolaborasi ini diharapkan menjadi model global bagaimana negara tropis dapat menjaga paru-paru dunia sekaligus meraih kemandirian ekonomi dari sektor konservasi.