MEDAN, ForestEarth.id – Jurnalis IDN Times sekaligus anggota Voice of Forest, Prayugo Utomo, menilai forum diskusi bertajuk “Suara Anak Muda dan Krisis Iklim” menjadi platform krusial di tengah kondisi Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja.
Forum ini dianggap sebagai ruang strategis bagi generasi muda untuk memahami realitas krisis ekologi sekaligus memformulasikan solusi nyata bagi masa depan bangsa.
Hal tersebut disampaikan Yugo, sapaan akrabnya, dalam rangkaian acara bedah buku “Reset Indonesia” yang diselenggarakan di Serayu Café and Space, Medan, Kamis (5/2/2026).
Menyinggung rentetan bencana alam dahsyat di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada November 2025 lalu, Yugo menyebutnya sebagai kondisi kebatinan yang memilukan.
Ia menegaskan perlunya pengusutan tuntas mengenai siapa yang harus bertanggung jawab atas kerusakan alam yang berujung pada bencana ekologi tersebut.
“Masyarakat menyebutnya sebagai kerusakan lingkungan, dan ini harus kita usut bersama. Fakta di lapangan menunjukkan masyarakat yang tidak melakukan perusakan justru menjadi pihak yang paling menderita menerima dampaknya,” ujar Yugo.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab pertama berada di tangan negara. Menurutnya, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk menjamin lingkungan yang sehat bagi warganya, bukan membiarkan kerusakan yang memicu bencana mematikan.
Sisi Humanis Meliput Bencana
Sebagai jurnalis yang turun langsung ke lokasi bencana pada November dan Desember 2025 lalu, Yugo membagikan pengalaman emosionalnya. Baginya, meliput daerah terdampak bukan sekadar soal peralatan teknis, melainkan kesiapan fisik dan mental yang luar biasa kuat.
“Liputan bencana itu sangat menguras mental. Kita harus mendengarkan cerita-cerita pilu secara langsung. Saya menyiasatinya dengan mengambil jeda seminggu setelah liputan untuk memulihkan kondisi mental sebelum kembali bertugas,” ungkapnya.
Selain mental, ia mengingatkan pentingnya kesiapan logistik dan jejaring darurat. Di medan bencana, ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian. “Kita harus siap tinggal dan tidur di mana saja. Semua kontak darurat dan jejaring harus disiapkan matang agar saat menghadapi kendala di lapangan, kita jauh lebih siap.”
Refleksi Atas Fondasi Bangsa
Kegiatan diskusi dan bedah buku “Menguji Reset Indonesia” karya Dandhy Laksono dkk ini diinisiasi oleh Indata Komunika Cemerlang bekerja sama dengan Green Justice Indonesia (GJI). Direktur Utama Indata Komunika Cemerlang, Fika Rahma, menegaskan bahwa pola lama dalam mengelola bangsa harus segera ditinggalkan.
Senada, Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo, menyebut tragedi di penghujung 2025 yang menelan lebih dari seribu korban jiwa sebagai bukti nyata kerentanan wilayah akibat degradasi lingkungan.
“Krisis iklim adalah realitas hari ini. Kita butuh ruang dialog yang mempertemukan sains, advokasi, dan refleksi kritis agar lahir gerakan bersama demi Indonesia yang lebih baik,” tutup Panut.
Diskusi ini mempertemukan berbagai perspektif lintas disiplin, mulai dari penulis buku Dandhy Laksono dan Benaya Harobu, akademisi Ibnu Avena Matondang, hingga para praktisi lingkungan dan otoritas iklim.