Bukan Sekadar Getah: Rio Ardi Ungkap Rahasia “Benteng Hijau” Haminjon dalam Buku “Kemenyan di Tapanuli”

PAHAE JULU, ForestEarth.id – Buku berjudul “Kemenyan di Tapanuli: Pilar Konservasi Berbasis Kearifan Lokal” dibedah saat peresmian Sopo Masyarakat Hukum Adat Simardangiang di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Tapanuli Utara pada Kamis (12/2/2026). 

Buku yang ditulis Rio Ardi dan Panut Hadisiswoyo itu bukan sekadar catatan botani biasa. Dalam acara itu, Rio Ardi membeberkan seluk beluk Haminjon (kemenyan)—mulai dari klasifikasi ilmiah yang rumit hingga peran heroiknya sebagai pelindung Tapanuli dari bencana ekologis.

Dalam pemaparannya yang lugas di hadapan para tokoh adat, Rio Ardi mengakui bahwa buku ini lahir dari kegelisahan akan terbatasnya literatur detail mengenai kemenyan.  Jika sebelumnya buku “Tombak Na Marpatik” menjelaskan kemenyan secara umum, karya terbaru ini masuk lebih dalam ke urat nadi teknis budidaya dan klasifikasi spesies.

Awalnya saya berpikir hanya ingin mengangkat sisi adat. Namun, setelah melakukan survei mendalam di Desa Simardangiang pada Agustus 2025, saya menemukan betapa lengkapnya praktik budidaya yang dilakukan masyarakat di sana. Buku ini hadir untuk melengkapi apa yang selama ini belum terjelaskan secara spesifik,” katanya. 

Melalui penelusuran literatur kuno hingga Flora Malesiana, Rio berhasil merangkum bahwa di Tapanuli Raya sebenarnya hanya terdapat tiga jenis kemenyan utama, meskipun di dunia maya sering kali simpang siur hingga disebut ada tujuh jenis.

Ketiga jenis tersebut yaitu, Kemenyan Toba (Styrax paralleloneurus): Kasta tertinggi dengan nilai ekonomi paling mahal. Kemenyan Durame (Styrax benzoin): Jenis yang paling umum ditemukan dari Sumatera Utara hingga Aceh. Dan, Kemenyan Bulu (Styrax benzoin var. hiliferum): Varietas dari Kemenyan Durame dengan kualitas terendah.

Konservasi Adat: Botani Tanpa Gelar Akademik

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah bagaimana Rio mendokumentasikan kecerdasan lokal. Masyarakat adat di Tapanuli Raya mampu membedakan ketiga jenis kemenyan tersebut dengan akurasi tinggi tanpa latar belakang pendidikan botani sedikitpun.

Ini bukan hanya konservasi ekologi, tapi konservasi secara adat. Secara turun-temurun, mereka mempertahankan cara mengidentifikasi kemenyan Toba atau Durame tanpa tahu klasifikasi ilmiahnya. Pengetahuan yang melekat secara organik ini adalah kekayaan luar biasa bagi bangsa kita,” tegas Rio.

Benteng Terakhir Melawan Bencana

Rio juga menyoroti peran vital hutan kemenyan saat rentetan bencana longsor dan banjir menghantam Sumatera pada November lalu. Ia menjelaskan bahwa hutan kemenyan yang dijaga masyarakat adat bekerja seperti perisai alami.

Pohon kemenyan tidak tumbuh dalam ekosistem monokultur. Di bawah tegakannya, tumbuh beragam jenis pohon lain yang membentuk struktur ekologi kompleks. Akar-akar ini saling mengikat, mempertahankan komposisi tanah, dan mencegah terjadinya pergeseran lahan (longsor) serta mengatur serapan air agar tidak terjadi banjir bandang.

Itulah mengapa saya menghubungkan kemenyan dengan konservasi. Hutan kemenyan di Simardangiang adalah benteng keselamatan bagi flora dan fauna di Tapanuli,” tambahnya.

Rumah Bagi 800 Individu Terakhir

Tak hanya soal tanah dan air, hutan kemenyan adalah rumah terakhir bagi Orangutan Tapanuli. Mengingat populasinya yang kini hanya tersisa sekitar 800 individu di dunia, keberadaan kebun kemenyan masyarakat adat menjadi kunci keberlangsungan hidup primata langka tersebut.

Rio memperingatkan dampak mengerikan jika hutan kemenyan dikonversi menjadi tanaman monokultur industri.

Jika kemenyan hilang, kita tidak hanya kehilangan tradisi, tapi juga memusnahkan habitat satwa yang tidak ada duanya di dunia ini,” pesannya dengan nada serius.

Literasi Sebagai Senjata Kedaulatan

Melalui buku yang ditulis dengan bahasa yang “enak” dan mudah dimengerti ini, Rio Ardi sebenarnya sedang memberikan senjata baru bagi masyarakat adat. Dengan memahami klasifikasi yang benar, masyarakat tidak akan mudah terpengaruh oleh informasi keliru di internet.

Buku ini menegaskan bahwa kemenyan bukan sekadar komoditas perdagangan masa lalu, melainkan simbol perlawanan terhadap krisis iklim masa depan. Sinergi antara kearifan lokal (konservasi adat) dan pembuktian ilmiah (konservasi ekologi) yang disajikan Rio Ardi menjadi panduan penting bagi para pengambil kebijakan di sektor kehutanan dan lingkungan hidup.

Kini, wangi kemenyan Toba tidak hanya tercium di pasar-pasar internasional, tetapi juga bergema dalam lembar-lembar literasi yang menjaga martabat hutan Tapanuli.

Leave A Comment