LANGKAT, ForestEarth.id – Kabar baik datang dari Leuser. Induk orangutan sumatera (Pongo abelii) bernama Pesek melahirkan anak ke 7. Kabar itu juga menjadi momentum memperkuat praktik wisata yang beretika dan bertanggung jawab.
Dalam keterangan tertulisnya, Kepala Bidang PTN Wilayah III Balai Besar TNGL, Palber Turnip mengatakan, kelahiran anak Pesek dilaporkan di Jalur Trail 1 posisi Kayu Putih pada sekitar pukul 13.00 WIB.
Berdasarkan hasil pengecekan awal di lapangan, kondisi induk dan anak dalam keadaan sehat. “Induk orangutan betina Pesek merupakan salah satu individu rehabilitan yang saat ini hidup liar di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser,” katanya.
Dikatakannya, Pesek diterima di pusat rehabilitasi pada tahun 1993 saat diperkirakan berusia sekitar 5 tahun, setelah diserahkan oleh masyarakat dari wilayah Binjai.
Saat ini usia Pesek diperkirakan telah mencapai sekitar 38 tahun dan telah melahirkan sebanyak 7 kali. Riwayat kelahiran anak-anak Pesek yakni;
1. April (April 1997),
2. Hirim (25 Agustus 2001 meninggal dunia pada tahun 2002),
3. Alam (25 Agustus 2004),
4. Wati (4 Agustus 2006),
5. Valentino (7 Februari 2013),
6. Pandemik (20 Februari 2020),
Kelahiran terbaru pada 24 Maret 2026 yang hingga saat ini belum diberi nama dan jenis kelamin belum teridentifikasi.
Petugas BBTNGL bersama mitra konservasi OIC direncanakan akan melakukan pemantauan lanjutan untuk memastikan perkembangan dan keselamatan induk serta anak di habitat alaminya.
Kelahiran individu orangutan dari induk rehabilitan yang telah mampu beradaptasi dan berkembang biak di alam liar menjadi indikator penting keberhasilan upaya rehabilitasi satwa serta perlindungan habitat di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
“Kelahiran anak orangutan di Bukit Lawang bukan sekadar kabar bahagia bagi konservasi, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat praktik wisata yang beretika dan bertanggung jawab,” ujar Direktur Green Justice Indonesia, Panut Hadisiswoyo pada Sabtu (28/3/2026).
Dikatakannya, peristiwa ini mengingatkan bahwa habitat alami adalah rumah sejati bagi orangutan, dan setiap aktivitas wisata harus memastikan tidak mengganggu perilaku alami mereka.
Interaksi yang terlalu dekat, pemberian pakan, atau tekanan dari kunjungan yang berlebihan justru dapat membahayakan induk dan bayi yang baru lahir.
Karena itu, kelahiran ini seharusnya menjadi titik balik untuk memperketat standar kunjungan wisata, membatasi jumlah pengunjung, memastikan jarak aman antara manusia dan satwa serta memperkuat edukasi kepada wisatawan tentang pentingnya menjaga kelestarian.
Dijelaskannya, wisata orangutan yang bertanggung jawab bukan hanya tentang melihat satwa liar, tetapi tentang menghormati kehidupan mereka.
Jika dikelola dengan baik, Bukit Lawang dapat menjadi contoh global bagaimana konservasi dan pariwisata berjalan beriringan—melindungi orangutan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat lokal.
“Momentum ini adalah pengingat bahwa keberhasilan konservasi sejati bukan saat orangutan bisa dilihat, tetapi saat mereka bisa hidup dengan aman, liar, dan bermartabat di habitatnya,” katanya.