MEDAN, ForestEarth.id — Laju deforestasi di Sumatera Utara pada 2025 semakin mengkhawatirkan. Auriga Nusantara mencatat, dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 yang dirilis Rabu (1/4/2026), deforestasi di provinsi ini meningkat hingga 281 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut menempatkan Sumatera Utara dalam 10 besar provinsi dengan kehilangan hutan terbesar sepanjang 2025.
Bersama Aceh dan Sumatera Barat, wilayah Sumatera bagian utara mengalami lonjakan deforestasi signifikan. Ketiga daerah ini juga dilaporkan mengalami bencana longsor dan banjir besar pada penghujung 2025, yang diduga berkaitan dengan berkurangnya tutupan hutan. Secara nasional, deforestasi Indonesia pada 2025 mencapai 433.751 hektare, naik sekitar 66 persen dari 261.575 hektare pada tahun sebelumnya.
Meski Kalimantan masih menjadi wilayah dengan deforestasi terluas, peningkatan di Sumatera dinilai lebih mengkhawatirkan karena terjadi di kawasan padat penduduk dan rawan bencana. Di Sumatera Utara, tekanan terhadap hutan berasal dari berbagai aktivitas, mulai dari ekspansi lahan hingga proyek pembangunan. Auriga Nusantara juga menyoroti sebagian deforestasi terjadi di kawasan yang dialokasikan untuk program ketahanan pangan, energi, dan air. Secara nasional, sekitar 18 persen deforestasi terjadi di area pencadangan tersebut.
“Tanpa langkah tegas, tren tersebut berpotensi memperparah krisis ekologis, termasuk meningkatnya risiko banjir dan longsor. Karena itu, Auriga mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi yang melindungi seluruh hutan alam tersisa, memperketat tata ruang, serta memperluas kawasan preservasi, terutama di luar kawasan hutan negara,” ujar dalam keterangan tertulis itu.
Sebagai bentuk transparansi, peta dan analisis deforestasi dimuat dalam platform Simontini (Sistem Informasi Tutupan dan Izin di Indonesia) yang dapat diakses publik. Data ini dihasilkan melalui kombinasi pemodelan spasial citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, dan verifikasi lapangan. Auriga Nusantara mencatat telah melakukan verifikasi lapangan di area seluas 49.321 hektare yang tersebar di 38 lokasi pada 28 kabupaten di 16 provinsi.
Referensi tutupan hutan diperoleh dari berbagai sumber, termasuk MapBiomas Indonesia, Kementerian Kehutanan, Joint Research Centre Uni Eropa, dan Google Forest Persistence. Pada 2025, seluruh pulau besar di Indonesia mengalami peningkatan deforestasi. Kalimantan tetap menjadi wilayah dengan deforestasi terluas, sementara Tanah Papua mencatat tambahan kehilangan hutan terbesar secara absolut. Dari sisi persentase, kenaikan tertinggi terjadi di Pulau Jawa.
Deforestasi tercatat terjadi di 383 kabupaten/kota atau sekitar 74 persen dari total wilayah Indonesia, menurun dari 428 kabupaten/kota pada tahun sebelumnya. Sepuluh kabupaten dengan deforestasi tertinggi didominasi wilayah Kalimantan dan Papua, dengan total mencapai 95.733 hektare atau 22 persen dari deforestasi nasional. Berdasarkan status penguasaan lahan, sekitar 71 persen deforestasi terjadi di kawasan hutan yang dikelola Kementerian Kehutanan, sementara sisanya berada di area penggunaan lain (APL).
Dari total tersebut, 78.213 hektare atau 18 persen terjadi di kawasan yang dialokasikan untuk program ketahanan pangan, energi, dan air. Auriga Nusantara merekomendasikan sejumlah langkah, antara lain perlindungan menyeluruh terhadap hutan alam tersisa, pengendalian revisi tata ruang, perluasan area preservasi, penguatan kelembagaan pengelola hutan, komitmen lingkungan dari korporasi, serta pemberian insentif bagi pihak yang berkontribusi dalam menjaga hutan