Proses pembiusan dilakukan untuk memeriksa luka serius pada tubuh Big Boy akibat pertarungan dengan pejantan lain. (Foto: BBTNGL)

Gajah Liar Menampakkan Diri, Ada Luka di Tubuhnya, Diduga Akibat Kalah Bertarung

LANGKAT, ForestEarth.id Awal Maret lalu, seekor gajah liar mulai terlihat keluar dari rimbunnya hutan di kawasan sekitar Dusun Sumber Waras, wilayah Resor Tangkahan/Cinta Raja. Ada luka di tubuhnya akibat kalah bertarung dengan gajah jantan lainnya. Ia tampak lemah berjalan sendiri dan semakin sering mendekati area terbuka. 

Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang PTN Wilayah III Balai Besar TNGL, Palber Turnip saat dikonfirmasi pada Rabu (1/4/2026) sore. Kemunculan gajah liar di kawasan hutan produksi terbatas (HPT) yang berdekatan dengan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) itu menunjukkan ada yang tidak beres sehingga timnya bersama warga dilakukan pemantauan. 

“Pada hari minggu (29/3/2026), sejak pagi, petugas dari Balai Besar Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser bersama berbagai pihak melakukan tindakan karena sejak 2 hari terakhir kondisi gajah terlihat semakin memburuk,” ujarnya. 

Menjelang siang, tim gabungan dari BBTNGL, BBKSDA Sumatera Utara, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, hingga organisasi konservasi seperti Sumatra Ranger Project sudah berada di lokasi. 

Tim menunggu posisi yang aman dan sekitar pukul 16.15 WIB, gajah itu berhasil dibius untuk dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Gajah jantan itu, yang kemudian dijuluki Big Boy, diduga kalah dalam pertarungan dengan pejantan lain. 

Luka-luka yang ditemukan memperkuat dugaan tersebut: abses di pangkal ekor, luka sobek di pinggul kiri, serta luka terbuka cukup dalam di telapak kaki belakang—sekitar 12 sentimeter panjangnya, dengan infeksi yang sudah berkembang.

“Perilaku menampakkan diri itu wajar. Hampir semua satwa begitu, misalnya rusa, kambing, harimau, karena tinggal itu pengharapan dia (untuk sembuh),” katanya.

Dalam dunia gajah, pertarungan seperti ini bukan hal baru. Gajah hidup dalam struktur sosial yang kompleks. Dalam satu koloni, hanya ada satu pejantan dominan—alfa—yang memimpin dan mengawasi kelompok betina serta anak-anak. Seiring waktu, gajah jantan muda akan tumbuh dan menantang posisi tersebut.

Tidak jarang, pertarungan terjadi. Yang kalah harus menyingkir. Big Boy tampaknya adalah salah satu dari mereka. Diperkirakan berusia sekitar 30 tahun dan belum memiliki gading yang berkembang sempurna, ia sedang berada di fase transisi menuju dewasa—fase paling rentan dalam kehidupan seekor gajah jantan.

Tim medis  sudah membersihkan luka, memberikan antibiotik, vitamin, serta obat pereda nyeri kepada Big Boy. Gajah itu tidak dikandangkan. Meski terluka, ia masih mampu bergerak, terutama di sisi kiri tubuhnya. Mengurungnya justru berisiko memicu stres dan membuatnya meronta, yang bisa memperparah luka.

“Gajah itu sudah diberi perlakuan, diberi vitamin, anti biotik dan lainnya. Jadi tidak dikungkung. Kalo dikungkung dia akan meronta dan dikhawatirkan akan muncul luka baru. Berdasarkan pantaun di lapangan, terllhat gajah itu sudah bergerak aktiv kembali,” katanya. 

Leave A Comment