CEO & Co-Founder Coffeenatics, Harris Hartanto Tan

Di Marancar Godang, Coffeenatics Dorong Konsistensi Petani Kopi dan Konservasi Orangutan Tapanuli

TAPANULI SELATAN, ForestEarth.id – CEO & Co-Founder Coffeenatics, Harris Hartanto Tan, menilai prospek pasar kopi, baik di tingkat lokal maupun internasional, masih sangat menjanjikan. Hal itu disampaikannya saat mengunjungi kebun kopi petani di Marancar, Tapanuli Selatan, dalam rangka melihat langsung potensi produksi kopi dari kawasan tersebut.

Harris menjelaskan, kopi sebagai komoditas global menunjukkan tren pertumbuhan yang konsisten. Perubahan gaya hidup konsumen menjadi salah satu faktor utama, terutama di kalangan anak muda yang kini menjadikan kopi sebagai bagian dari keseharian.

Kalau kita lihat, outlook pasar kopi itu selalu positif. Konsumen, baik di dalam negeri maupun luar negeri, sudah mulai beralih dari teh ke kopi. Terutama di Indonesia, anak muda sekarang sangat identik dengan kopi,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Di tingkat global, ia menyoroti pergeseran pola konsumsi di negara-negara yang sebelumnya dikenal sebagai peminum teh, seperti China. Menurutnya, peningkatan konsumsi kopi di negara tersebut menjadi peluang besar bagi produsen kopi, termasuk dari Indonesia.

Di China, yang dulunya identik dengan teh, sekarang konsumsi kopi juga meningkat pesat. Ini jadi peluang besar untuk kopi kita masuk ke pasar internasional,” tambahnya.

Dalam hal jenis kopi, Harris menjelaskan perbedaan karakter antara Arabika dan Robusta. Arabika umumnya diminati konsumen yang mencari cita rasa kompleks, sementara Robusta lebih lekat dengan konsumen lama dan memiliki ketahanan lebih tinggi terhadap perubahan iklim.

Arabika butuh suhu yang lebih dingin, sementara kondisi bumi makin panas. Ini jadi tantangan, sehingga ke depan Robusta bisa menjadi substitusi yang semakin penting,” jelasnya.

Saat meninjau langsung kebun kopi petani di Marancar, Harris menilai produksi yang ada saat ini sudah cukup baik, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam aspek perawatan dan teknik budidaya.

Secara umum sudah baik, tapi bisa ditingkatkan lagi. Misalnya dari segi perawatan yang lebih intensif, dan juga shading atau pohon pelindung yang masih kurang,” katanya.

Ia menekankan bahwa salah satu kunci utama dalam pengelolaan kebun kopi adalah konsistensi. Fluktuasi harga kerap membuat petani kehilangan motivasi, padahal menurutnya, kopi tetap memiliki pasar yang stabil dalam jangka panjang.

Kopi itu komoditas, harganya naik turun. Tapi yang penting petani tetap konsisten merawat kebunnya. Jangan sampai karena harga turun, perawatan ikut menurun. Karena nanti harga juga akan naik kembali,” tegasnya.

Terkait kualitas kopi dari Marancar, Harris menyebut bahwa dengan proses yang tepat dan pendampingan yang baik, kopi dari kawasan tersebut layak untuk masuk ke pasar kafe, termasuk jaringan Coffeenatics.

Kalau diproses dengan baik dan dibimbing secara benar, kopi dari sini layak masuk ke kafe-kafe. Bahkan kami juga sudah mengambil sebagian dari sini,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia juga menyoroti pentingnya peran petani dalam menjaga keseimbangan antara produksi kopi dan kelestarian lingkungan. Coffeenatics, menurutnya, turut mendorong komitmen petani untuk tidak memperluas lahan ke kawasan hutan lindung, termasuk habitat Orangutan Tapanuli.

Di Tapanuli ini ada hutan lindung yang menjadi habitat orangutan Tapanuli. Kami mendorong petani untuk tetap menjaga kawasan tersebut, tidak membuka lahan baru, dan menghargai cagar alam,” katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Coffeenatics telah mempromosikan kopi Tapanuli ke tingkat global, termasuk membawanya ke forum internasional seperti World Economic Forum di Swiss.

Perjalanan mempromosikan kopi Tapanuli ini tidak instan, butuh waktu lebih dari dua tahun. Tapi sekarang mulai terlihat hasilnya. Bahkan kopi ini pernah dibawa ke World Economic Forum dan sempat dicicipi oleh Presiden,” ujarnya.

Harris pun menutup dengan pesan kepada para petani agar tetap semangat dan konsisten dalam mengelola kebun kopi mereka.

Jangan menyerah. Terus jaga kualitas dan konsistensi. Karena kopi Tapanuli punya potensi besar untuk dikenal dunia,” pungkasnya.

Leave A Comment