Perjalanan Harimau Senja, dari Langkat kembali ke Belantara Leuser

GAYO LUES, ForestEarth.id – Setelah hampir setahun direhabilitasi di Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS) di Padang Lawas, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Senja akhirnya dilepasliarkan ke habitat alaminya di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser pada Rabu (21/5/2025).

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut), Novita Kusuma Wardani mengatakan, harimau Senja diamankan di Besitang, Langkat pada 5 Juni 2024 karena terjadi interaksi negative. Dari pemeriksaan yang dilakukan, harimau itu berjenis kelamin betina.

Dari sisi kesehatan harimau Senja dipantau dan ditangani secara makro dan mikro oleh tim medis drh. Anhar Lubis dan drh. Muhammad Agung sejak 11 November 2024. Kemudian pada 13 April 2025, tidak ditemukan adanya virus yang membahayakan, begitupun perilakunya juga normal dan layak dilepasliarkan di habitat alaminya.

“Kami berhasil mengembalikan harimau sumatera bernama Senja ke habitat alaminya di zona inti TNGL, berkat Kerjasama dengan berbagai pihak. Mudah-mudahan pengembalian ke habitat alaminya ini memberi kesempatan untuknya hidup dengan baik,” katanya.

Kepala BBKSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani (8 dari kanan) berfoto usai pelepasliaran harimau Senja di zona inti TNGL pada Rabu (21/5/2025)

Novi menjelaskan, pelepasliaran ini juga bertepatan ini dengan Hari Kebangkitan Nasional, sehingga ini pelepasliaran ini menjadi symbol kebangkitan konservasi satwa liar. Dia menitip kepada masyarakat Gayo Lues untuk turut melestarikan harimau sebagai satu-satunya spesies harimau terakhir di Indonesia.

Dikatakannya, pihaknya sudah memetakan wilayah rawan terjadi interaksi negative atau konflik antara manusia dengan satwa dengan membentuk desa mandiri konflik. Dengan demikian, masyarakat sekitar kawasan memahami bahwa harimau atau satwa lainnya tidak akan mengganggu kalau tidak diganggu.

“Kalau kemunculan harimau di dekat masyarakat, juga tidak selalu harus dianggap konflik atau interaksi negatif. Cuman belum semua masyarakat memahami itu sehingga harus teris dilakukan sosialisasi sehingga masyarakat lebih mandiri ketika menjumpai satwa liar yang turun, keluar hutan, apa yang arus dilakukan,” katanya.

Novi menambahkan, beberapa waktu lalu pihaknya bersama stakeholder sudah mendorong terbentuknya satuan tugas (satgas) penanganan atau penanggulangan konflik/interaksi negatif antara manusia dengan satwa. “Mudah-mudahan bisa diinisiasi lagi dalam waktu dekat dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” katanya.

Sementara itu, drh. Anhar Lubis mengatakan, pelepasliaran harimau Senja berjalan dengan baik. Sesaat pintu kandang dibuka, harimau Senja melakukan orientasi sekitar 2 – 3 menit ebelum meninggalkan kandangnya menuju hutan. “Perlahan belok ke kanan, kemudian ke kiri dan masuk ke hutan kecil, itu biasa perilakunya. Bentuk kewaspadaan dia terhadap kita yang ada di belakang,” katanya.

Menurutnya, harimau Senja adalah korban. Di tempat asalnya di Besitang, Langkat, dia memiliki wilayah territorial yang sebagian merupakan hutan, sebagian lagi adalah hutan yang sudah menjadi pemukiman. Namun karena masyarakat tidak nyaman, maka harimau Senja harus ditangkap dan kemudian dilepasliarkan di lokasi yang jaraknya lebih dari 300 km, yakni di zona inti TNGL.

“Alhamdulilah hari ini dia sudah dilepasliar kembali dan saya pikir dia sangat senang sekali,” katanya.

Harimau Senja sesaat sebelum dilepasliarkan.

Dijelaskannya, sebelum dilakukan pelepasliaran yang penting dilakukan adalah memahami perilakunya. Dalam kasus harimau Senja, masyarakat keberatan karena sudah memangsa hewan ternaknya. Sebenarnya ada solusi yakni mengandangkan hewan ternaknya. Namun situasnya sulit.

“Ini sebenarnya jalan pintas. Tapi gak apa-apa. Jalan pintas tapi (kemudian) harimaunya dilepasliarkan di tempat yang layak. Dia akan sangat sejahtera di alam sana. Kata kunci intuk harimau Senja ini, dia biasa dengan masyarakat karena dia sering ambil ternak msyarakat. tapi dia tidak pernah serang masyarakat,” katanya.

Kondisi itu, menurut drh. Anhar Lubis, membuat harimau Senja sedikit nyaman dengan manusia karena sudah terbiasa. Dan karena itu pula harimau Senja harus dilepasliarkan di tempat yang jauh dari pemukiman. Lokasi yang dipilih ini, jauh dari pemukiman dan tidak akan muncul lagi.

“Sedikit statemen saya, hampir 20-an harimau yang kita rilis, di luar Beru Situtung, tidak pernah dia kembali lagi. Di Gayo Lues dirilis tidak pernah kembali lagi, di Gayo Lues ada 2 ekor, bahkan bukan di taman nasional. Begitu juga dengan Putra di Aceh Tenggara, dirilis tidak pernah kembali lagi,” katanya.

Pimpinan Yayasan Parsamuhan Bodhicitta Mandala, Kuslan Nyanaprathama mengatakan,  pelepasliaran harimau Senja merupakan sebuah keberkahan, ditambah lagi dengan kolaborasi banyak pihak untuk mengembalikan si raja hutan ke habitatnya. Diketahui, BNWS merupakan perwujudan dari Kerjasama Yayasan Parsamuhan Bodhicitta Mandala dengan BBKSDA Sumut.

“Sehingga semesta alam ini bisa lebih lestari dan berkembang secara berkelanjutan,” katanya.

Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kutacane Balai Besar TNGL, Buana Darmansyah menyambut dengan baik kembalinya harimau Senja ke TNGL. Lokasi pelepasliaran ini sangat baik karena terdapat mangsa alami. “Semoga Senja bisa ketemu jodoh, beranak pinak dan tetap berkembang dengan lestari selama di TNGL. Inii menjadi habitat idelal untuk kembalinya harimau Senja ke Leuser,” katanya.

Pelepasliaran harimau Senja di zona inti Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), merupakan kolaborasi antara BBKSDA Sumut, BBTNGL, Yayasan Parsamuhan Bodhicitta Mandala, PT Agincourt Resources  dan didukung otoritas Bandara Blangkejeren serta Pemerintah Kabupaten Gayo Lues. Pelepasliaran dilakukan menggunakan helikopter tipe SA 315B Lama (Aerospatiale) dengan metode long line, mengingat sulitnya akses darat menuju lokasi.  Dukungan logistik ini difasilitasi oleh PT Agincourt Resources.

Populasi Menurun

Harimau Sumatera merupakan satwa kunci ekosistem hutan dan dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.106/2018 serta UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Namun, jumlahnya terus menurun akibat perburuan, alih fungsi lahan, dan konflik dengan manusia. Data Sumatra Wide Tiger Survey (SWTS) sejak 2018 hingga 2023 mencatat keberadaan harimau di 657 dari 721 grid di 23 bentang alam. Berdasarkan analisis kesintasan populasi, populasi harimau dewasa di alam diperkirakan sekitar 586 individu.

Sementara daya dukung habitat diperkirakan mampu menopang hingga 1.400 individu, yang berarti ada potensi peningkatan populasi tiga kali lipat jika habitat dikelola secara optimal.

Konflik antara harimau dan manusia, terutama di Langkat, meningkat dalam dua tahun terakhir. Pemerintah melalui Permenhut No.48/Menhut-II/2008 telah menetapkan pedoman penanganan konflik satwa liar. Namun, setiap kasus memerlukan pendekatan kontekstual dan kolaborasi antarpihak.

“Terjadinya konflik harimau dan manusia menimbulkan kerugian sosial, ekologi, dan ekonomi. Oleh karena itu, upaya mitigasi dan rehabilitasi seperti yang dilakukan pada ‘Senja’ sangat krusial dalam strategi konservasi ke depan,” ujar Kabid Teknis BBKSDA Sumut, Bresman Marpaung.

 

Leave A Comment