MEDAN, ForestEarth.id – Jurnalis senior Yulhasni menilai perjalanan konservasi orangutan yang dilakukan Panut Hadisiswoyo selama lebih dari dua dekade merupakan sebuah “operasi sunyi”. Minim sorotan media, namun mampu melahirkan organisasi konservasi yang kini berkembang besar.
Pandangan itu disampaikan Yulhasni saat memberikan tanggapan dalam peluncuran buku biografi Panut Hadisiswoyo. Mengawali penyampaiannya, Yulhasni menyampaikan ucapan selamat kepada Panut atas terbitnya buku biografi tersebut. Ia mengaku mengenal Panut sejak masih aktif di lingkungan kampus dan mengetahui perjalanan awal aktivis konservasi itu.
“Saya mengenal Panut sejak di kampus. Kami beberapa kali berinteraksi. Jadi sedikit banyak saya mengikuti perjalanan dia,” katanya saat launching Autobiografi Panut Hadisiswoyo, ‘Berdiri di Garis Terakhir’.
Yulhasni mengaku sempat membaca naskah buku yang dikirimkan kepadanya. Menariknya, ia berseloroh bahwa di era digital saat ini ia juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu memahami isi buku tersebut. “Begitu bukunya dikirim, saya baca sebagian. Karena sekarang eranya digital dan AI, saya juga mencoba memahami isinya dengan bantuan AI. Setelah itu baru saya baca lagi bagian-bagiannya,” ujarnya disambut tawa hadirin.
Namun, bagi Yulhasni, yang paling menarik bukan semata isi buku, melainkan perjalanan panjang Panut membangun gerakan konservasi yang selama ini nyaris luput dari perhatian media. Ia mengakui, ketika masih aktif sebagai wartawan yang meliput isu-isu gerakan masyarakat sipil sebelum era reformasi, nama Panut belum pernah masuk dalam radar pemberitaannya.
“Bukan karena kerja-kerjanya tidak penting, tetapi karena saat itu isu konservasi orangutan belum dianggap sebagai isu yang menarik bagi media,” katanya.
Menurut Yulhasni, pada masa itu perhatian media lebih banyak tertuju pada isu-isu hak asasi manusia, advokasi anak, maupun kasus-kasus orang hilang yang menjadi fokus berbagai organisasi masyarakat sipil.
“Kalau bicara HAM, advokasi anak, atau orang hilang, itu pasti menjadi berita besar. Tetapi isu konservasi orangutan belum dianggap sebagai isu yang ‘seksi’ oleh media,” ujarnya.
Karena itulah, ia melihat Panut dan OIC menjalankan kerja-kerja konservasi secara senyap, jauh dari sorotan publik. “Kalau saya menyebutnya, ini adalah operasi sunyi,” katanya.
Meski berlangsung tanpa banyak perhatian media, Yulhasni menilai justru dari kerja-kerja yang tenang dan konsisten itulah OIC berhasil tumbuh menjadi organisasi konservasi yang besar. “Dengan operasi sunyi seperti itu, Panut mampu membangun sebuah organisasi sebesar ini. Itu menurut saya luar biasa,” ujarnya.
Bagi Yulhasni, perjalanan yang tergambar dalam buku tersebut menunjukkan bahwa tidak semua perubahan harus lahir dari sorotan publik. Ada gerakan-gerakan yang bekerja secara konsisten dalam diam, tetapi menghasilkan dampak besar bagi pelestarian alam.
Ia berharap buku biografi Panut Hadisiswoyo dapat menjadi pengingat bahwa kerja-kerja konservasi membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan kesediaan bekerja tanpa selalu mengharapkan perhatian publik.



