Hot Topics

Kata Syafrizaldi Jpang Tentang Strategi Sleeping with The Enemy

MEDAN, ForestEarth.id — Bagi sebagian orang, Panut Hadisiswoyo mungkin dikenal sebagai pegiat konservasi orangutan yang bekerja tanpa lelah. Namun, di mata Syafrizaldi Jpang, sahabat sekaligus rekan seperjuangannya selama hampir dua dekade, gambaran itu belum sepenuhnya tepat.

“Orang melihatnya kerja terus, kerja melulu. Padahal sebenarnya kerja Mas Panut itu sambil main-main,” ujar Syafrizaldi sambil berseloroh saat memberikan tanggapan dalam peluncuran buku autobiografi Panut Hadisiswoyo, Berdiri di Garis Terakhir pada Jumat (17/7/2026).

Kalimat pembuka itu langsung mengundang tawa hadirin. Namun, di balik candaan tersebut pria yang akrab dipanggil Aal ini mengatakan hal itu sebagai salah satu kunci keberhasilan Panut membangun Orangutan Information Centre (OIC).

Menurutnya, bekerja “sambil main-main” bukan berarti tidak serius. Sebaliknya, Panut mampu menikmati setiap proses perjuangan sehingga pekerjaan yang penuh tekanan justru dijalani dengan kegembiraan.

“Saya kerja juga main-main. Anak-anak di OIC juga begitu. Orang yang bahagia bekerja memang terlihat seperti sedang bermain,” ujar Direktur OIC ini.

Aal mengaku memiliki kedekatan khusus dengan proses penulisan buku tersebut. Bahkan, ia sudah membaca draf awalnya sekitar dua tahun lalu. Saat itu, isi buku sudah memuat berbagai kisah yang belum banyak diketahui publik, mulai dari perjalanan membangun organisasi, kehidupan pribadi Panut, hingga berbagai persoalan yang pernah dihadapinya.

“Di situ ada cerita bagaimana bukunya pernah dibredel, bagaimana berurusan dengan polisi, berhadapan dengan mafia tanah, dan berbagai pengalaman lain. Semua itu sudah saya baca sejak dua tahun lalu,” katanya.

Karena itulah, ketika buku tersebut belum juga diterbitkan, ia beberapa kali menanyakan perkembangannya. “Saya sempat bertanya, ‘Ini kapan terbit?’ Jawabannya selalu, ‘Tunggu dulu.’ Baru sekarang saya paham kenapa lama. Memang dia enggak punya waktu,” ujarnya disambut tawa peserta.

Strategi yang Sering Disalahpahami

Bagi Syafrizaldi, bagian paling menarik dari buku itu bukan semata-mata kisah perjuangan atau pengorbanan Panut, melainkan strategi yang digunakannya dalam membangun organisasi.

Ia menilai banyak orang hanya melihat hasil akhir OIC yang kini berkembang menjadi organisasi konservasi yang diperhitungkan. Padahal, di balik itu terdapat pendekatan yang sering kali sulit dipahami, bahkan oleh orang-orang terdekatnya.

“Salah satu yang paling menarik adalah strateginya. Bukan hanya soal kegigihan, tetapi bagaimana dia membangun hubungan dengan banyak pihak,” katanya.

Ia kemudian mengutip salah satu istilah yang digunakan Panut dalam buku tersebut, yakni sleeping with the enemy.

Menurut Syafrizaldi, istilah itu bukan dimaknai secara harfiah, melainkan sebagai strategi membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang selama ini dianggap berada di seberang kepentingan konservasi.

“Kadang-kadang strategi ini tidak dipahami teman-teman. Di belakang Mas Panut kami sering bertanya, ‘Kenapa dia baik dengan orang-orang yang justru ingin menjatuhkan dia? Sementara dengan kita malah sering berbeda pendapat?'”

Namun, seiring berjalannya waktu, ia memahami bahwa pendekatan tersebut merupakan bagian dari strategi memperluas ruang dialog dan membangun dukungan. “Itu memang strateginya. Semua peluang dia manfaatkan untuk kepentingan perjuangan,” ujarnya.

Dia mengenal Panut sejak 2006. Meski tidak selalu bekerja bersama, hubungan keduanya semakin dekat sekitar 2010 ketika mereka beberapa kali melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain untuk mendukung berbagai kegiatan konservasi.

Ia mengatakan, banyak orang hanya melihat OIC yang telah berkembang besar saat ini, tetapi tidak mengetahui bagaimana beratnya proses yang dilalui Panut pada masa-masa awal. Dalam buku itu, kata dia, diceritakan bagaimana Panut harus melakukan berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup sambil terus memperjuangkan konservasi orangutan.

“Tidak ada cerita yang instan. Dia harus sekolah, bekerja, mencuci piring, melakukan macam-macam pekerjaan supaya bisa bertahan hidup,” katanya.

Menurut Syafrizaldi, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa Panut telah mengorbankan banyak hal demi memastikan gerakan perlindungan orangutan tetap berjalan. “Banyak orang tidak tahu detail perjuangan itu. Bahwa dia meninggalkan banyak hal demi memastikan advokasi perlindungan orangutan bisa terus berlangsung,” katanya.

Ia bahkan menyebut masih banyak kisah yang belum dimasukkan ke dalam buku. “Saya yakin Bang Tikwan tahu lebih banyak. Tapi mungkin ada juga yang disensor,” ujarnya sambil kembali mengundang tawa hadirin.

Di penghujung penyampaiannya, Syafrizaldi menggunakan sebuah metafora yang menurutnya paling tepat menggambarkan sosok Panut Hadisiswoyo. “Kalau saya boleh mengibaratkan, Panut itu seperti lilin,” katanya.

Menurut dia, lilin rela menghabiskan dirinya sendiri agar orang lain memperoleh cahaya.”Dia tidak masalah dirinya habis terbakar, asalkan orang lain mendapatkan terang.”

Meski di internal organisasi perbedaan pendapat dan konflik kecil tetap terjadi, Syafrizaldi menilai Panut selalu mampu menjaga organisasi tetap berjalan. “Ya, kami juga pernah berantem. Tapi selesai. Yang penting organisasi tetap berjalan,” katanya.

Ia menambahkan, banyak orang hanya menikmati hasil dari kerja keras seorang pemimpin, tetapi tidak melihat pengorbanan yang dilakukan di balik layar. “Mungkin orang hanya melihat cahayanya. Tidak melihat bagaimana lilinnya perlahan habis terbakar,” katanya.

Syafrizaldi mengatakan tidak semua orang mampu memahami jalan pikiran Panut. Bahkan, orang-orang yang telah lama bekerja bersamanya pun terkadang memerlukan waktu untuk memahami alasan di balik setiap keputusan yang diambilnya.

“Saya sendiri di awal-awal juga sering tidak mengerti kenapa dia mengambil keputusan seperti itu,” katanya.

Namun, setelah hampir dua puluh tahun mengenalnya, ia menyadari bahwa cara berpikir tersebut merupakan bagian dari kepemimpinan Panut dalam membangun OIC. “Kadang-kadang justru hal-hal seperti itulah yang membuat Panut menjadi sosok yang disayangi, dihormati, sekaligus tidak selalu mudah dipahami,” katanya.

Tags :

dewan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent News

Kami adalah platform jurnalisme lingkungan yang berbasis di Medan, Sumatera Utara, dan berdiri sejak tahun 2022.

Email Us: forest.earth.official@gmail.com

Contact: +6261 8047 1297

ForestEarth.id @2026. All Rights Reserved.