MEDAN, ForestEarth.id — Bagi Edy Ikhsan, perjalanan Orangutan Information Centre (OIC) hingga menjadi salah satu organisasi konservasi yang diperhitungkan saat ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Menurutnya, keberhasilan itu lahir dari kemampuan Panut Hadisiswoyo memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar, membangun jejaring, dan meyakinkan banyak pihak agar mendukung kerja-kerja konservasi.
“Tidak usah panggil saya Prof. Di sini banyak teman-teman jurnalis, aktivis, ada senior dan junior. Panggil saja Bang atau Bapak. Mungkin usia kita juga tidak terlalu jauh,” ujarnya saat launching buku Autobiografi Panut Hadisiswoyo, ‘Berdiri di Garis Terakhir’ pada Jumat (17/7/2026), disambut tawa peserta.
Edy kemudian mengapresiasi penulis buku yang dinilainya berhasil merangkai perjalanan hidup Panut dengan cara yang menarik. Ia menyebut berbagai episode kehidupan Panut sejak kecil disajikan dengan alur yang mengalir, termasuk kisah ketika Panut gemar menembak burung yang kemudian berbalik menjadi sosok yang justru melepaskan burung ke alam liar.
“Bahkan disebut sebagai advokasi pertamanya,” katanya.
Namun, dari seluruh isi buku, ada satu bagian yang menurut Edy paling berkesan, yakni ketika Panut mulai memikirkan pendirian Orangutan Information Centre (OIC). Edy mengatakan momen berdirinya OIC membawanya kembali pada awal tahun 2000-an, masa ketika berbagai organisasi masyarakat sipil di Sumatera Utara mulai bermunculan dan mengembangkan isu masing-masing.
Ia mengingat OIC lahir sekitar dua dekade lalu, hampir bersamaan dengan Yayasan Pusaka Indonesia yang turut ia bangun. Bahkan jauh sebelumnya, pada 1991, ia bersama Soekirman telah merintis Lembaga Advokasi Anak Indonesia dengan fokus pada isu perlindungan anak.
Karena itu, Edy merasa memahami betul bagaimana beratnya membangun sebuah organisasi nonpemerintah dari nol. “Kalau di NGO, rasanya tidak mungkin tidak pernah mengalami pasang surut,” ujarnya.
Di situlah, menurutnya, buku tentang Panut justru memunculkan rasa penasaran. Ia mengaku hampir tidak menemukan cerita mengenai konflik-konflik internal yang lazim dialami organisasi masyarakat sipil.
“Yang membuat saya bertanya-tanya, kok tidak ada cerita berantem-berantemnya? Padahal hampir semua NGO pasti pernah mengalami konflik. Maksud saya, internal. Mungkin ada yang sengaja disimpan untuk buku berikutnya,” katanya berseloroh.
Bukan Hanya Isu Orangutan
Meski mengakui bahwa isu konservasi orangutan relatif mudah mendapatkan simpati publik, Edy menilai keberhasilan OIC tidak bisa dijelaskan hanya karena faktor tersebut. “Semua orang sayang sama orangutan. Tidak ada yang benci dengan orangutan,” ujarnya.
Namun menurutnya, keberhasilan OIC juga sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan Panut. Ia melihat Panut memiliki kemampuan yang tidak dimiliki banyak aktivis, yakni memanfaatkan kemampuan berbahasa Inggris untuk membangun hubungan dengan berbagai lembaga dan individu di tingkat internasional.
“Saya memberikan apresiasi luar biasa karena Panut mampu mengkapitalisasi kemampuan berbahasa Inggrisnya untuk memperjuangkan sesuatu yang sangat murni dalam dimensi kemanusiaan, yaitu konservasi orangutan,” katanya.
Kemampuan itu, lanjut Edy, kemudian menjadi modal penting bagi OIC untuk berkembang dari waktu ke waktu. “Bukan semata-mata karena isu orangutannya, tetapi karena Panut terus berkembang dari satu periode ke periode berikutnya. Dia mampu meyakinkan individual network maupun institutional network untuk mendukung kerja-kerjanya.”
Menurut Edy, salah satu kekuatan terbesar Panut adalah kemauannya untuk terus belajar. Ia mengingat masa ketika Panut menempuh pendidikan di universitas. Di lingkungan kampus itu, Panut bertemu banyak akademisi, ekspatriat, dan aktivis dari berbagai negara. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. “Dia memanfaatkan hubungan-hubungan itu secara positif. Dia menunjukkan kapasitasnya dan dia mau belajar.”
Edy juga menyebut Panut banyak belajar dari tokoh-tokoh senior gerakan masyarakat sipil, salah satunya Bang Kirman yang ia sebut sebagai salah seorang sesepuh organisasi masyarakat sipil. “Kita semua belajar dari Bang Kirman (Soekirman). Saya belajar dari beliau, dan saya yakin Panut juga banyak mengambil pelajaran dari situ.”
Di penghujung sambutannya, Edy kembali melontarkan candaan mengenai organisasi masyarakat sipil. Menurutnya, hampir semua NGO pasti pernah mengalami dinamika internal.
“Yang paling menarik dan saya mau belajar dari situ ketika, kok macemnya gak ada berantem-berantemnya. Gak seperti kami. Kok semuanya aman-aman saja. NGO mana di Sumatera Utara yang gak berantem. Kira-kira seperti itu. Nah, perlu belajar kita dari Panut. Kok bisa awet gitu. Sehingga sekarang punya ratusan staff, ada mobil. Bagaimana caranya,” ujarnya.
Meski disampaikan dengan nada bercanda, pertanyaan itu, menurut Edy, sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kemampuan Panut menjaga keberlanjutan organisasi. Ia menilai membangun organisasi konservasi bukan sekadar soal memilih isu yang tepat, tetapi membutuhkan konsistensi, kemampuan membangun jejaring, kemauan belajar, serta kepemimpinan yang mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan.
“Membesarkan OIC dilakukan pada masa yang memang penuh dengan begitu banyak tantangan. Dan itu bukan pekerjaan yang mudah,” tutupnya.



