MEDAN, FORESTEARTH.id – Pantai timur Sumatera Utara menghadapi krisis serius. Abrasi pantai tak terhindarkan membuat nelayan tradisional kehilangan sebagian besar mata pencaharianya. Beberapa penyebabnya akibat aktifitas destruktif. Di sisi lain, masyarakat terus berupaya memperbaiki dengan kekuatannya yang terbatas namun dengan harapan yang besar.
Di Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, seorang nelayan bernama Rustam mengatakan bahwa laut menjadi tumpuan perekonomian masyarakat. Secara turun temurun leluhur mereka menjadi nelayan. Hasil tangkapan dari laut telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat nelayan.
Desanya pernah menjadi salah satu penghasil ikan kerapu berkualitas ekspor dengan jumlah yang tak sedikit. Saat itu kondisi perairan masih baik. Banyak jenis ikan yang hidup dan berhasil dibudidayakan secara alamiah maupun keramba. Namun seiring berjalan waktu, banyak perubahan yang terjadi.
Perubahan yang sangat meresahkan adalah semakin banyaknya sampah dan kondisi air yang semakin berlumpur. Sampah, kata dia, menjadi permasalahan pelik karena Jaring Halus adalah desa pulau. Biasanya mereka membakar sampah. Namun, sampah dalam jumlah besar biasanya datang dibawa gelombang. Mereka tak tahu bagaimana menanganinya.
“Jadi karena airnya semakin berlumpur, banyak ikan tak bisa bertahan di sini. Kerapu misalnya, tak bisa hidup lagi dibudidayakan,” katanya.
Seorang nelayan tradisional di Desa Paluh Sibaji, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Nazarudin mengatakan permasalahan yang dihadapi oleh nelayan adalah dampak kerusakan hebat akibat pengerukan pasir pada 2008 untuk bandara. Dampak itu dirasakan di nelayan tradisional di Desa Paluh Sibaji, Desa Denai Kuala, Rugemuk, dan Pantai Labu Pekan.
“Saat ini nelayan benar-benar menderita karena laut semakin keruh dan ikan semakin sulit ditangkap. Penyebabnya, pengerukan pasir di perairan Pantai Labu oleh perusahaan-perusahaan penambang pasir tahun 2008 dulu,” katanya.
Saat itu, hanya ada dua perusahaan yang beroperasi namun dampaknya sangat besar. Sudah ratusan pondok di Pantai Serambi Deli lenyap ‘dilahap’ abrasi. Begitu juga, ratusan 200 meter hutan mangrove juga hilang. Semakin keruhnya air laut, nelayan semakin sulit mendapatkan ikan.
“Sehari sebelumnya, hasil tangkapan saya hanya 1 kg ikan. Kalo dijual hanya bisa untuk dimakan. Kalo bisa dibilang, nelayan tradisional sekarang ini ya gigit jari lah,” katanya.
Pemerhati Masyarakat Adat, Abdon Nababan mengatakan masyarakat harus sadar bahwa tantangan terberat saat ini adalah krisis iklim yang sudah di depan mata. Krisis iklim itu yakni berkaitan pangan, air dan sumber daya. Menurutnya, Kawasan pesisir semakin tidak nyaman dihuni. Hasil tangkapan yang dulunya melimpah kini semakin menipis.
“Masyarakat adat yang hidup dari laut semakin kecil harapannya karena kerusakan yang terjadi. Krisis iklim ini harus segera diatasi oleh kita semua. Dari laut nel;ayan tradisional berhadapan dengan kapal besar yang alat tangkapnya destruktif, di darat, mereka menghadapi abrasi, semakin sulit kondisinya,” katanya.