Menteri Lingkungan Hidup Dorong Dekarbonisasi di PLTBg Pagar Merbau

DELI SERDANG, ForestEarth.id – Menteri Lingkungan Hidup RI Hanif Faisol Nurofiq menyambangi Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Pagar Merbau PTPN IV Regional II di Kabupaten Deli Serdang, Jumat (29/11/2024).

Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) RI itu menjelaskan pemanfaatan teknologi terbarukan seperti pengelolaan gas metana merupakan wujud komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Saat ini, Indonesia memiliki kebun kelapa seluas 18 juta hektare yang memproduksi Palm Oil Mill Effluent (POME) sekitar 910 ribu ton atau setara 36 juta tCO2eq Emisi Gas Rumah Kaca. Jumlah inilah yang hendak ditekan oleh pemerintah.

Penurunan POME juga bagian dari strategi pemerintah dalam melawan black campaign kelapa sawit. “Kalau 36 juta tCO2eq itu bisa kita capture, maka kita dapat memenuhi janji Indonesia kepada dunia internasional untuk penurunan Emisi Gas Rumah Kaca,” katanya.

Perkembangan terkait inisiatif global methane dan persiapan pembukaan akses Indonesia Carbon Trading, saat ini desain skema perdagangan karbonnya tengah disusun dengan target penyelesaian dalam tiga bulan.

Hal ini mencakup penyelesaian mutual recognized agreement, metodologi, dan teknik pengukuran dalam 1-2 bulan ke depan. Karena itu, upaya pengelolaan metana, seperti yang dilakukan oleh PTPN 4, akan mendapatkan apresiasi berupa sertifikat.

Untuk kegiatan sebelum 2021, sertifikat penghargaan akan diberikan, sementara untuk periode setelah 2021, sertifikat kinerja yang dapat diperdagangkan, baik domestik maupun internasional.

Data dan upaya mitigasi, seperti tutupan hutan dan penangkapan metana, harus dikelola dengan baik karena akan diverifikasi melalui citra satelit dan data jejak karbon.

“Jadi nanti, kami sudah matur (sampaikan) ke Bapak Presiden, Pak Prabowo, bahwa kami izin Bapak Presiden, akan segera melaksanakan amanat Bapak untuk mengopresionalkan Indonesia carbon trading mungkin 3 bulan, mungkin sekitar bulan Februari, Maret kita akan segera jalan,” katanya.

Pihaknya mengapresiasi langkah konkret PTPN IV PalmCo dalam mendukung program dekarbonisasi nasional. Ia menilai, pengelolaan gas metana di PLTBG Pagar Merbau mencerminkan komitmen PTPN IV PalmCo terhadap keberlanjutan lingkungan serta pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab.

“Kami apresiasi PTPN IV yang telah melakukan terobosan-terobosan dan inovasi, mulai dari PLTBg, cofiring, SAF dan lain sebagainya. Ini yang menguatkan kami selaku pemerintah untuk mempelajari lebih serius upaya dekarbonisasi,” ujar Hanif.

Dalam prosesnya, lanjut Hanif, PLTBg Pagar Merbau berkolaborasi dengan PLN yang menjadikannya sebagai salah satu pilar penting dalam strategi ini. Teknologi seperti methane capture tengah dievaluasi untuk memastikan efisiensi dan pengurangan biaya produksi.

“Ini yang kami besok akan diskusikan dengan Pak Menteri ESDM, karena harganya belum terlalu efisien. Tetapi memang kalau kita kembalikan di dalam efisiensi, di dalam diri perusahaannya, itu mengurangi biaya hasil produksi sebenarnya,” katanya.

Namun, ia juga menegaskan pentingnya komitmen dari para pemangku kepentingan. “Tinggal bagaimana mereka mau bergerak. Untuk memastikan langkah ini berjalan, kami akan membuat regulasi yang bersifat mandatori, termasuk peraturan Menteri Lingkungan Hidup untuk penerapan teknologi methane capture,” tambahnya.

Ia menambahkan, analisis footprint di lokasi-lokasi tertentu akan mempermudah langkah mitigasi yang efektif. Perdagangan karbon dinilainya penting karena memberikan insentif bagi semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat, untuk berkontribusi dalam menurunkan emisi gas rumah kaca.

Ia juga menyoroti tantangan triple planetary crisis, yang mencakup perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Gas rumah kaca, termasuk metana, menjadi salah satu penyebab utama krisis tersebut.

Seluruh sektor, baik pusat maupun daerah, bersama swasta dan masyarakat, lanjut Hanif, diharapkan dapat bersinergi untuk mengurangi emisi. Dalam skenario nasional, Indonesia menargetkan net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat.

“Net zero berarti masih ada emisi dari sektor energi, tetapi sektor lain, seperti limbah dan kehutanan, akan menyerap emisi sehingga jumlahnya nol secara keseluruhan,” jelasnya.

Di lokasi yang sama, Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan, sejak 2020 hingga 2024, PLTBg ini telah menyuplai listrik kepada masyarakat melalui PLN sebesar 16,8 MWh.

Jumlah ini setara dengan tambahan pendapatan senilai Rp17,6 miliar serta pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca sebesar 54 ribu tCO2eq. PTPN IV PalmCo, lanjut dia, akan terus berkomitmen menjadi Perusahaan pelopor dalam keberlanjutan di sektor perkebunan.

Dia berharap langkah-langkah diambil dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi lingkungan, masyarakat, serta perekonomian Indonesia. Dikatakannya, dalam mendukung upaya dekarbonisasi nasional, PTPN IV PalmCo telah mengembangkan berbagai inisiatif untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.

Antara lain mengambil langkah strategis dengan pengelolaan emisi gas rumah kaca, terutama metana. Seperti diketahui, metana merupakan gas yang dihasilkan dalam proses pembuangan limbah organik, salah satunya dari limbah cair kelapa sawit.

“Di PTPN IV PalmCo, kami melihat pengelolaan limbah bukan hanya kewajiban. Tetapi juga peluang besar untuk berinovasi dan mendukung upaya mitigasi perubahan iklim,” ujarnya.

Kata Jatmiko, PLTBg Pagar Merbau menjadi satu di antara sejumlah proyek unggulan PTPN IV PalmCo dalam mendukung upaya dekarbonisasi dengan memanfaatkan biogas yang berasal dari POME untuk menghasilkan energi listrik terbarukan.

Melalui fasilitas ini, perusahaan tidak hanya dapat mengurangi emisi metana yang terbuang ke atmosfer. Tetapi juga menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar.

Dengan teknologi methane capture, PLTBg Pagar Merbau berhasil menangkap dan mengolah gas metana dari limbah cair sawit yang sebelumnya dilepaskan ke udara. Gas metana yang terkumpul tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan energi listrik yang selanjutnya disalurkan ke jaringan listrik.

“Alhamdulillah, kami berhasil mengubah potensi ancaman lingkungan menjadi sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan,” tuturnya.

Selain PLTBg Pagar Merbau, PTPN IV PalmCo juga memiliki 12 unit fasilitas methane capture lainnya. Yakni PLTBg Kwala Sawit, PLTBg Pasir Mandoge, PLTBg Hapesong, PLTBg Sei Mangkei, PLTBg Terantam, PLTBg Tandun, Pabrik SAF, CBG Tinjowan, Biogas Cofiring Sei Rokan, Biogas Cofiring Sei Tapung, Biogas Cofiring Lubuk Dalam, Biogas Cofiring Sei Pagar.

Dengan berbagai fasilitas tersebut, PTPN IV PalmCo berpotensi mengurangi emisi sebesar 208 ribu tCO2eq. Selain itu, PTPN IV PalmCo juga berencana mengembangkan fasiltas methane capture hingga kelak berjumlah 30 unit pada 2030. Dengan demikian, Perusahaan berpotensi mengurangi emisi sebesar 628 ribu tCO2eq.

Jatmiko mengatakan, upaya dekarbonisasi bukan semata tanggung jawab perusahaan. Melainkan suatu kerja kolektif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta.

Oleh karena itu, PTPN IV PalmCo sangat mendukung inisiatif pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk menurunkan emisi karbon serta pencapaian net-zero emission di masa depan.

“Kami berkomitmen mendukung inisiatif ini dengan terus berinovasi dalam pengelolaan limbah dan energi terbarukan serta memperkuat program-program keberlanjutan yang tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga aspek sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Leave A Comment