BEIJING, ForestEarth.id – Sebuah terobosan penting dalam dunia konservasi berhasil dirumuskan oleh para ilmuwan dari Akademi Ilmu Pengetahuan China (CAS).
Melalui studi panjang selama satu dekade, tim peneliti menawarkan strategi baru yang ilmiah dan non-fatal untuk mengakhiri konflik abadi antara komunitas peternak dan karnivora besar, dengan cara mengatur “jadwal temporal” atau waktu aktivitas ternak.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Integrative Zoology ini menyoroti tantangan global: bagaimana memastikan pembangunan ekonomi komunitas agropastoral (pertanian-peternakan) tetap berjalan tanpa mengorbankan keanekaragaman hayati yang terancam punah.
Hampir sepertiga daratan Bumi digunakan untuk penggembalaan ternak domestik. Tingginya tumpang tindih ruang antara lahan gembala dan habitat asli satwa liar memicu konflik terus-menerus. Di wilayah yang kurang berkembang, predasi ternak oleh karnivora besar sering kali berujung pada perburuan balasan oleh manusia.
“Perburuan balasan ini menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi satwa liar dan ancaman serius terhadap kelangsungan hidup spesies terancam punah,” ujar Lian Xinming, peneliti dari Institut Biologi Dataran Tinggi Barat Laut (NWIPB-CAS), seperti dilansir dari Antara, mengutip Xinhua, Kamis (12/3/2026).
“Memahami pola aktivitas karnivora dan menerapkan segregasi (pemisahan) temporal adalah strategi berbasis bukti untuk mengurangi risiko tersebut.”
Tim peneliti melakukan investigasi lapangan jangka panjang di kawasan Sanjiangyuan, Provinsi Qinghai, yang dikenal sebagai habitat krusial bagi empat predator utama: macan tutul salju, serigala, lynx, dan beruang cokelat. Tiga spesies pertama sering memangsa hewan domestik, sementara beruang cokelat terkenal sering merusak rumah dan membahayakan nyawa manusia.
Selama periode sepuluh tahun (2014-2024), para ilmuwan memasang 422 kamera inframerah yang mencakup area pemantauan kumulatif seluas 2.580 kilometer persegi. Ribuan foto valid berhasil dikumpulkan untuk menganalisis pola aktivitas harian dan variasi musiman keempat karnivora besar tersebut.
Zonasi Waktu: Mengatur Jadwal Gembala
Analisis data menunjukkan bahwa keempat karnivora tersebut primarily aktif pada malam hari, namun dengan waktu puncak aktivitas yang berbeda-beda. Serigala, misalnya, menunjukkan pola aktivitas musiman yang jelas, berbeda dengan spesies lainnya.
Melalui penilaian risiko temporal yang presisi, studi ini berhasil mengidentifikasi “interval waktu berisiko tinggi” untuk masing-masing spesies. Kuncinya adalah menerapkan strategi pengelolaan ternak yang terarah pada periode kritis tersebut.
Dalam kasus beruang cokelat, periode paling berbahaya saat spesies ini memasuki rumah penggembala adalah antara pukul 20.42 hingga 02.36 keesokan harinya. Pada jam-jam ini, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, memelihara anjing penjaga, serta menggunakan perangkat peringatan berbasis suara, cahaya, dan listrik untuk mengusir predator.
“Dengan mengintegrasikan zonasi pemanfaatan ruang serta mengatur waktu penggembalaan berdasarkan pola aktivitas temporal spesies tertentu, kemungkinan pertemuan manusia dengan karnivora dapat sangat dikurangi,” pungkas Lian.
Strategi ini diharapkan dapat menjadi panduan ilmiah global untuk menciptakan koeksistensi harmonis antara manusia dan satwa liar.