BANDAR LAMPUNG, ForestEarth.id – Tanggal 14 Februari biasanya dirayakan sebagai hari kasih sayang, namun bagi Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, tahun 2026 memberikan makna yang jauh lebih dalam.
Di hari itu, dua nyawa baru lahir ke dunia—dua bayi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang membawa secercah harapan bagi kepunahan yang membayangi jenis mereka.
Kelahiran ini bukan sekadar penambahan angka populasi, melainkan sebuah simfoni kemenangan atas tragedi. Kedua induknya, Kyai Batua dan Sinta, adalah “pahlawan” yang berhasil selamat dari kekejaman jerat pemburu liar.
Cinta di Tengah Keterbatasan
Kisah Kyai Batua adalah luka lama yang membekas. Diselamatkan pada Juli 2019 di Lampung Barat, ia harus merelakan kaki kanan depannya diamputasi akibat luka jerat yang membusuk. Ia menjadi penyintas dengan cacat permanen.
Takdir kemudian mempertemukannya dengan Sinta, harimau betina yang juga menyandang luka serupa. Sinta kehilangan kaki kanan belakangnya setelah terjerat di Bengkulu pada akhir 2024.
Siapa sangka, di balik keterbatasan fisik mereka, alam memberikan anugerah luar biasa. Keduanya membuktikan bahwa luka masa lalu tidak menghalangi mereka untuk memberikan kehidupan baru.
Kemenangan bagi Konservasi
Komisaris Lembaga Konservasi Lembah Hijau Lampung, M. Irwan Nasution, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat membagikan kabar ini. Kelahiran ini menjadi yang pertama dalam kategori ex situ (di luar habitat alami) di tanah Lampung.
“Ini bukti nyata keberhasilan program konservasi. Menjadi sangat unik dan menyentuh karena kedua induknya adalah satwa yang cacat akibat jerat manusia, namun mereka mampu melahirkan generasi penerus,” ujar Irwan dengan nada bangga, Senin (4/5/2026).
Kedua bayi ini merupakan buah dari program strategis Kementerian Kehutanan melalui Global Species Management Plan (GSMP), sebuah kolaborasi besar untuk memastikan harimau Sumatera tidak hanya menjadi cerita di buku sejarah.
Pesan dari Balik Jeruji Konservasi
Kehadiran dua anggota keluarga baru ini menjadi pengingat pahit sekaligus manis bagi kita semua. Pahit karena mengingatkan betapa kejamnya ancaman jerat di hutan, namun manis karena menunjukkan dedikasi para tim penyelamat, medis, dan pengelola yang tak kenal lelah merawat para penyintas ini.
Irwan berharap, masyarakat tidak hanya melihat keimutan dua bayi harimau ini, tetapi juga merenungkan perjuangan induk mereka.
“Kami ingin ini menjadi sarana edukasi. Jangan ada lagi jerat di hutan. Biarkan mereka tumbuh di habitat yang aman,” tambahnya.
Kini, kedua bayi tersebut berada dalam pengawasan ketat tim medis. Lembah Hijau berkomitmen untuk terus menyediakan fasilitas terbaik agar mereka dapat tumbuh optimal, membawa semangat Kyai Batua dan Sinta—sepasang penyintas yang menolak menyerah pada nasib.