JAKARTA, ForestEarth.id – Indonesia kembali mengukuhkan posisinya sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia. Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan dua spesies ngengat baru yang unik dan endemik, yang ditemukan di pedalaman hutan Papua dan Sulawesi.
Dua spesies dari famili Crambidae ini resmi diberi nama Glyphodella fojaensis (dari Pegunungan Foja, Papua) dan Chabulina celebesensis (dari Sulawesi). Temuan fenomenal ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bergengsi, Raffles Bulletin of Zoology, edisi Februari 2026.
Peneliti senior BRIN, Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah, berhasil mengidentifikasi kedua spesies ini setelah melalui perjalanan panjang survei lapangan sejak tahun 2002 hingga 2017.
“Kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang sangat khas. Glyphodella fojaensis memiliki bercak kuning bulat yang mencolok pada sayap depannya, sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis sayap yang unik,” ujar Rosichon Ubaidillah di Jakarta, seperti dilansir dari Antara, Selasa (3/3).
Perbedaan struktur genitalia—yang menjadi “sidik jari” bagi serangga—menjadi dasar kuat bagi para peneliti untuk menetapkan keduanya sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.
Habitat yang Terisolasi dan Rentan
Kedua ngengat ini diketahui bersifat nokturnal (aktif malam hari) dan memiliki habitat yang sangat spesifik. Glyphodella fojaensis Menghuni hutan tropis primer di kawasan terpencil Pegunungan Foja, Papua. Sedangkan Chabulina celebesensis ditemukan di hutan sekunder tropis wilayah Sulawesi.
Sifatnya yang endemik atau hanya ditemukan di lokasi tertentu membuat kedua spesies ini sangat rentan.
“Keberadaan mereka sangat bergantung pada kelestarian hutan. Deforestasi dan degradasi habitat menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup mereka,” tambah Rosichon.
Koleksi Nasional di Museum Zoologicum Bogoriense
Dalam penelitiannya, tim BRIN menggunakan teknik perangkap cahaya untuk mengumpulkan spesimen. Kini, seluruh spesimen asli (tipe) telah didokumentasikan dan disimpan dengan aman di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor, sebagai bagian dari koleksi ilmiah nasional.
Penemuan ini tidak hanya menambah daftar panjang kekayaan serangga Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus melindungi ekosistem hutan yang tersisa di Papua dan Sulawesi.
