Mengenal 6 Jenis Primata Endemik di Kepulauan Mentawai

MENTAWAI, ForestEarth.id – Berdasarkan riset yang sudah dilakukan, terdapat 6 jenis primate endemic di seluruh Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat dengan populasi di kisaran 10.000 – 20.000 ekor. Dari 6 jenis primata, yang paling banyak diburu adalah simakobu dan joja. Di rumah-rumah warga di Desa Madobak Ugai, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai terdapat banyak tengkorak hasil buruan dipajang di atap rumah.

Direktur Swara Owa, Arif Setiawan yang akrab dipanggil Wawan mengatakan, 6 jenis primate endemic Mentawai itu yakni:

1. Hylobates klossii atau bilou

Hylobates klossii (Foto: Arif Setiawan/Swara Owa)

Primata berrambut hitam di seluruh tubuhnya termasuk wajah, Sekilas serupa dengan siamang dengan ukuran yang lebih kecil, sehingga bilou disebut juga sebagai siamang kerdil, meskipun ukurannya adalah sama dengan jenis owa lainnya.

Tren populasi owa bilou mengalami penurunan lebih dari 50% semenjak tahun 1980-an, dengan populasi yang tersisa 17.500 individu. Populasi terbesar ditemukan di Taman Nasional Siberut 10.500 individu. Sementara populasi terkecil terdapat di Sipora (753-880 individu) dan populasi gabungan di Pagai Utara dan Selatan yang diperkirakan mencapai 2.029 individu (Paciulli 2005; Höing et al. 2013).

Terdapat 13 lokasi di luar Taman Nasional Siberut yang masih memiliki populasi owa bilou dengan kepadatan 1,04-4,16 kelompok/km2.

Owa bilou merupakan owa endemik di Kepulauan Mentawai meliputi Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan. Owa bilou hidup di hutan primer dan sekunder, dari daerah pantai hingga perbukitan.

Habitat owa bilou di luar Taman Nasional Siberut pada umumnya adalah hutan sekunder, bekas konsesi penebangan dan lahan pertanian terbengkalai (Setiawan et al. 2020). Sebagian besar area tersebut merupakan hutan yang terfragmentasi dengan topografi yang curam. Owa bilou di Siberut memiliki ruang jelajah yang terkecil 7-11 ha, hingga yang terluas 32 hektar (Liswanto et al. 2020).

2. Bokkoi Siberu atau Macaca siberu

Bokkoi Siberu atau Macaca siberut. (Foto : Ismael Saumanuk/Swara Owa)

Primata ini hanya bisa ditemukan di Pulau Siberut. Secara taksonomi sudah dipisahkan dari Macaca pagensis yang ada di PUlau Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora. Kedua primate itu memiliki perbedaan pada ekor. Macaca siberu memiliki ujung ekor keriting sedangkan Macaca pagensis memiliki ekor lurus. (SwaraOwa)

3. Siteut atau Macaca pagensis.

Siteut atau Macaca pagensis. (Foto : Arif Setiawan/Swara Owa)

Sebagaimana namanya, beruk Mentwai yang oleh warga disebut dengan Bokkoi, Macaca pagensis ini hidup di Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara. Dikutip dari ThePrimata, beruk Mentawai ini juga dapat ditemukan di Sipora. Salah satu keunikan Bokkoi adalah kantong pipi yang digunakan untuk membawa makanan.

4. Simias concolor atau Pigtailed Langur atau Simakobu

Simias concolor atau Pigtailed Langur atau Simakobu. (Foto : Arif Setiawan/SwaraOwa)

Dikutip dari laman Kehati, primata ini juga disebut dengan nama Simakobu. Subspesies ini mendiami Pulau Siberut. Menurut Primate Specialist Group (IUCN Species Survival Commission bekerja sama dengan International Primatological Society dan Conservation International), Simakobu termasuk dalam “The World’s 25 Most Endangered Primates” (25 Primata Paling Terancam di Dunia). Dalam IUCN Redlist, Simakobu masuk ke dalam status konservasi tingkat keterancaman tertinggi (Critically Endangered).

Ukuran tubuhnya sekitar 50 cm dengan berat sekitar 7-9 kg,  dengan bulu berwarna hitam-coklat dan bulu berwarna hitam pada daerah wajah. Ekornya sekitar 15 cm dan memiliki sedikit bulu. Hidungnya pesek dan terkesan menghadap ke atas. Lengannya panjang dan kuat.Monyet ekor babi tinggal dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas satu monyet jantan, satu atau lebih betina dan anak monyet. Binatang diurnal (aktif di siang hari) ini lebih sering melakukan aktifitas di atas pohon dan jarang turun ke tanah. Makanan utama simakobu adalah dedaunan dan terkadang memakan buah-buahan.

5. Presbytis potenziani potensziani atau Atapaipai atau Joja siberu

Presbytis potenziani potenziani atau Atapaipai atau Joja siberu (Foto : Arif Setiawan/Swara Owa)

Primata ini merupakan famili Cercopithecidae dan subfamili Colobinae ini dikenal dengan nama lokal Joja atau Lutung Mentawai atau Mentawai Leaf MonkeyGolden-bellied Mentawai Island Langur, atau Long-tailed Langur.  Joja dapat ditemui di Pulau Siberut. Dikutip dari laman IPB, joja merupakan hewan diurnal atau aktif di siang hari, bersifat arboreal (terutama menempati area kanopi tengah dan atas) serta memiliki sistem lokomosi kuadrupedal, bergantung serta meloncat.  

Primata pemakan dedaunan (55% ), dan buah, bij-bijian serta bunga umumnya bersifat poligami, namun sangat unik karena diketahui memiliki sistem kawin monogami di dalam kelompoknya. Meskipun kelompok one male-multi female juga pernah dilaporkan pada hewan spesies ini, sifat monogami yang ditemukan pada Presbytis potenziani ini tetap menjadi suatu fenomena menarik karena sangat jarang dijumpai pada monyet dari famili ini.

Menurut IUCN Redlist 2016, Lutung Mentawai berstatus Endangered  karena populasinya terus menurun, bahkan diperkirakan mencapai 50% penurunan selama 40 tahun terakhir akibat kerusakan habitat dan juga kegiatan perburuan. Berdasarkan CITES, hewan ini termasuk kategori Appendix I.

6. Presbytis siberu

Presbytis siberu (Foto: Arif Setiawan/SwaraOwa)

Presbytis siberu merupakan subspecies dari Presbytis potenziani potenziani. Primata ini hidup di Pulau Siberut. Menurut Arif Setiawan mengatakan pemisahan beruk Mentawai (nomor 5 & 6) ini berdasarkan penelitian morphologi sampel museum oleh Andrew C. Kitchener dan Colin Grooves, ahli taksonomi primata pada 2002.

“Iya kalau kita lihat di rumah-rumah mereka itu, itu kemungkinan paling banyak jenis simakobu dan joja,” ujar Direktur Swara Owa, Arif Setiawan yang akrab dipanggil Wawan.

Wawan mengatakan, pihaknya sudah melakukan riset di Mentawai pada 2012 dan mulai aktif pada 2016 hingga sekarang. “Swara Owa berkontribusi apa yang jadi ekspertise kita dan concern kita untuk populasi owa. Estimasi populasi, ancamannya apa, dari perspektif owa-nya. Kolaborasi ini di wilayah hutan adatnya, ini yang belum pernah dilakukan sebelumnya di lokasi-lokasi yang sudah diprioritaskan untuk jadi hutan adat,” katanya.

Harapannya, dapat menjadi sumber informasi keberadaan dan jumlah populasi owa kenapa owa ada di satu lokasi dan tidak di lokasi lain, serta apa penyebabnya. Diketahui, saat ini sudah ada 6 spesies primata endemik di seluruh Kepulauan Mentawai. Sejak 2012, pihaknya menemukan ada tantangan konflik lahan. Misalnya di Pulau Sipora dan Pagai sudah terjadi land clearing, hutan sudah tidak ada lagi. “Ketidakpastian status perlindungan itu menjadi ancaman juga,” katanya.

Kemudian perburuan masih terjadi. Semakin mengkhawatirkan karena sudah menggunakan alat-alat canggih seperti senapan angin, tidak lagi hanya panah. Hal itu bisa ditemukan di hampir semua lokasi. “Selain itu, juga ada perusahaan. Kalau ngambil kayu ya, tebang habis semua,” katanya.

Pentingnya Uma dan Sikerei

Wawan menjelaskan, dalam konteks perlindungan terhadap satwa khususnya primata, aturan-aturan adat sebenarnya bisa digunakan. Tetapi  di lapangan banyak aturan-aturan adat ini tidak diterapkan lagi karena sudah tidak ada sistem adat Uma, Sikirei yang melarang menembak dan memakan bilou, tidak boleh memburu yang masih muda dan betina, dan lain sebagainya.

Dua sikerei di Desa Madobak Ugai, Kecamatan Siberut Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Menurut Wawan, keberadaan Uma dan Sikerei sangat penting dalam perlindungan 6 jenis primata endemik di Mentawai.

“Sebenarnya itu aturan yang bisa membantu juga secara langsung untuk keberlanjutan primata. Tapi karena sistem ini sudah ada erosi, jadi orang nggak lagi berpegang teguh pada aturan-aturan adat. Karena nggak ada Uma dan Sikirei sebagai pilar dan pusat adat. Tidak ada Uma dan Sikerei, ya udah bebas, nggak ada yang pantangan-pantangan itu lagi,” katanya. 

Wawan mengingatkan, satwa yang ada di Pagai dan Sipora adalah satwa endemik yang tidak ada di Siberut, karenanya dibutuhkan aksi untuk membangun kesadaran pentingnya perlindungan di kawasan, solusi ekonomis misalnya wisata minat. “Perlu pendekatan yang berbeda dengan Siberut karena sudah tidak ada lagi Uma dan Sikerei,” katanya.

Leave A Comment