BELEM, ForestEarth.id – Laporan terbaru dari United Nations Environment Programme (UNEP), Emissions Gap Report 2025: Off Target mengungkap janji iklim dalam Paris Agreement masih jauh dari jalur aman terhadap iklim global. Para pemimpin dunia yang tiba di Belém, Brazil, di akhir minggu ini untuk KTT Pemimpin menjelang COP30 harus meningkatkan ambisi dan bertindak dengan mendesak – waktu hampir habis.
Dalam edisi ke-16 laporan tahunan tersebut memperkirakan, jika seluruh Nationally Determined Contributions (NDC) atau komitmen nasional negara-negara benar-benar dilaksanakan, pemanasan global akan mencapai 2,3–2,5°C pada akhir abad ini. Sementara jika hanya mengandalkan kebijakan yang saat ini berlaku, suhu bumi diperkirakan naik hingga 2,8°C.
Sebagai perbandingan, laporan tahun 2024 memperkirakan pemanasan global sebesar 2,6–2,8°C (dengan pelaksanaan penuh NDC) dan 3,1°C berdasarkan kebijakan saat ini.
Namun UNEP mencatat, penurunan kecil dalam proyeksi suhu tahun ini sebagian besar disebabkan oleh pembaruan metodologi yang berkontribusi sekitar 0,1°C. Temuan UNEP itu langsung mendapat tanggapan dari organisasi lingkungan global 350.org, yang menyerukan peningkatan ambisi iklim di COP30.
Dalam keterangan tertulisnya, Kepala Wilayah di 350.org, Savio Carvalho, laporan ini mengonfirmasi apa yang dirasakan jutaan orang dalam kehidupan sehari-hari mereka: pemerintah masih gagal menepati janji mereka.
“Jendela untuk menjaga 1,5 °C masih terbuka, tapi cepat menutup. Semua mata sekarang tertuju ke Belém. COP30 harus menjadi titik balik, di mana pemimpin berhenti memberi alasan, menghentikan bahan bakar fosil, dan mempercepat energi terbarukan secara cepat, adil, dan merata,” katanya.
Disebutkan, janji-janji iklim baru hampir tidak mengubah arah pemanasan global. UNEP menegaskan bahwa negara-negara dunia masih jauh dari tujuan utama Paris Agreement, yakni membatasi kenaikan suhu “jauh di bawah 2°C” dan berupaya menahan pemanasan tidak lebih dari 1,5°C.
Untuk mencapai jalur tersebut, dunia perlu memangkas emisi gas rumah kaca tahunan sebesar 35 persen untuk target 2°C dan 55 persen untuk target 1,5°C pada tahun 2035, dibandingkan tingkat emisi tahun 2019. Namun laporan itu memperingatkan dengan skala pengurangan sebesar itu, waktu yang semakin sempit, dan kondisi politik global yang tidak stabil, kenaikan suhu melebihi 1,5°C hampir pasti akan terjadi dalam dekade mendatang.
Meski demikian, UNEP menekankan kelebihan pemanasan ini (overshoot) masih dapat dibatasi melalui pemangkasan emisi yang lebih cepat dan besar-besaran untuk meminimalkan risiko iklim dan kerusakan lingkungan, serta menjaga peluang untuk menurunkan suhu kembali mendekati 1,5°C pada tahun 2100.
“Setiap sepersekian derajat suhu yang berhasil dihindari berarti kerugian yang lebih kecil bagi manusia dan ekosistem, biaya yang lebih rendah, dan ketergantungan yang lebih sedikit pada teknologi penyedotan karbon yang belum terbukti,” tulis laporan tersebut.
Sejak disepakatinya Paris Agreement satu dekade lalu, proyeksi kenaikan suhu global memang telah turun dari kisaran 3–3,5°C menjadi sekitar 2,5°C. UNEP menyebut teknologi rendah karbon yang dibutuhkan untuk melakukan pemangkasan besar emisi sudah tersedia — termasuk energi angin dan surya yang kini berkembang pesat dan semakin murah diterapkan.
Namun percepatan aksi iklim global tetap menghadapi hambatan besar.
Laporan itu menyoroti perlunya navigasi geopolitik yang rumit, peningkatan dukungan besar-besaran bagi negara berkembang, serta perombakan mendasar terhadap sistem keuangan internasional agar transisi energi bersih dapat berlangsung cepat dan adil. Menurutnya, mengembangkan bahan bakar fosil tidak kompatibel dengan masa depan yang layak ditinggali.
“COP30 perlu menghasilkan rencana konkret untuk menghentikan batubara, minyak dan gas dengan cepat, serta mendukung negara-negara memperluas energi terbarukan yang terjangkau dan dapat diakses oleh semua,” ujarnya.
Dijelaskannya, laporan Emissions Gap 2025 menunjukkan bahwa bahkan jika semua janji saat ini dilaksanakan, dunia masih berada di jalur menuju pemanasan hingga 2,5 °C — jauh di atas batas aman yang dinyatakan ilmuwan. Sementara itu, emisi masih meningkat, dan negara-negara dengan emisi tinggi gagal mencapai target mereka untuk 2030. Masyarakat sipil dan kepemimpinan adat adalah kompas moral dari negosiasi ini.
“Di Amazon dan sekitarnya, masyarakat adat dan komunitas tradisional melindungi ekosistem yang menjaga planet kita tetap hidup. Kepemimpinan mereka harus menjadi inti dalam pengambilan keputusan di Belém. Kami akan menuntut pertanggungjawaban pemerintah dan menuntut agar kata-kata akhirnya berubah menjadi aksi iklim nyata,” Ilan Zugman, Direktur Eksekutif Latin America, 350.org.