Dua bulan pasca banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, proses pemulihan masih berlangsung. Berdasarkan catatan dari Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, di provinsi ini sebanyak 375 meninggal dunia dan 41 orang masih dinyatakan hilang. (Foto: Antara)

2 Bulan Pasca Banjir Longsor di Sumatera Utara, 375 Meninggal Dunia dan 41 Orang Hilang

MEDAN, ForestEarth.id – Dua bulan pasca banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, proses pemulihan masih berlangsung. Berdasarkan catatan dari Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara, di provinsi ini sebanyak 375 meninggal dunia dan 41 orang masih dinyatakan hilang.

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati pada Minggu (25/1/2025) mengatakan, banjir dan longsor pada 24 November 2025 berdampak pada  1,8 juta warga di 20 kabupaten/kota dan 121 orang luka-luka. Hingga kini pencarian korban yang hlang menjadi perhatian pemerintah daerah.

Sri Wahyuni merinci, di Tapanuli Utara korban meninggal dunia sebanyak 36 orang, 2 hilang. Tapanuli Tengah 130 orang meninggal dunia dan 34 orang hilang. Di Tapanuli Selatan, 93 orang meninggal dunia dan 4 hilang. Sedangkan Humbang Hasundutan, 10 orang meninggal dunia dan 1 orang hilang.

“Sementara itu di Kota Sibolga, 55 orang meninggal dunia. Padangsidimpuan 1 orang, Pakpak Bharat 2 orang, Medan 12 orang, Langkat 16 orang, Deli Serdang 17 orang, Nias Selatan 1 orang, dan Nias 2 orang,” katanya.

Dikatakannya, akibat banjir dan longsor yang terjadi, ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi. Di Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah, tercatat sebanyak 645 orang di SMAN 1 Tukka. Di SDN 2 Sipange, 162 orang, Simpang Sipange (Tanah Merah) sebanyak 564 orang, Gereja HKBP Batu Bolon, Kecamatan Sitahuis 111 orang.

“Selanjutnya di Kebon Pisang, Kecamatan Badiri sebanyak 135 orang, dan Posko Aek Horsik sebanyak 348 orang,” katanya.

Di Kecamatan Tapanuli Selatan, titik pengungsian berada di Desa Marsada, Kecamatan Batang Toru. Pengungsi berasal dari Desa Pengkolan sebanyak 298 orang. Menurut Sri Wahyuni, saat ini sebagian besar daerah telah menetapkan status transisi ke pemulihan sedangkan lainnya menyatakan penanganan bencana selesai.

Menurutnya, selain focus pada pencarian korban hilang, pihaknya juga terus mendorong percepatan pemulihan infrastruktur dan akses masyarakat di wilayah terdampak yang sempat terisolir akibat banjir dan longsor. “Infrastruktur itu seperti akses jalan, jembatan dan fasilitas dasar, menjadi prioritas agar aktivitas di lokasi bisa kembali normal seperti biasa,” katanya.

Dikutip dari Antara, di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapanuli Tengah terdapat ratusan tenda yang dihuni sebanyak 912 warga. Lurah Hutanabolon, PUlman Pakpahan mengatakan, kebutuhan pangan dari dapur umum sudah disediakan untuk makan tiga kali. Sementara untuk kebutuhan air bersih sudah ada sekitar 20 sumur bor.

Di lokasi yang sama, sedang dipersiapkan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap). Beberapa huntara seperti rusunawa Pandan dan huntara di Pinang Sori juga sudah disiapkan hanya saja jaraknya jauh sehingga warga memilih tetap bertahan di lokasi tersebut.

Leave A Comment