Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan lintas kementerian/lembaga fokus pada pemulihan, proses rehabilitasi rekonstruksi, dengan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan normalisasi Sungai Batang Toru. (Foto: Dok BNPB)

Pemerintah Menargetkan Huntara di Tapanuli Selatan Selesai Sebelum Ramadan

MEDAN, ForestEarth.id – Pemerintah menargerkan pembangunan hunian sementara (huntara) di Tapanuli Selatan selesai sebelum bulan Ramadan yang jatuh pada pertengahan Februari 2026. Hal itu dilakukan agar warga terdampak banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025 dapat menjalankan ibadah dengan lebih baik dan nyaman.

Dalam keterangan tertulisnya pada Minggu (26/1/2026), Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan lintas kementerian/lembaga fokus pada pemulihan, proses rehabilitasi rekonstruksi, dengan percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) dan normalisasi Sungai Batang Toru.

Dijelaskannya, BNPB mencatat total penerima huntara di Kabupaten Tapanuli Selatan, sebanyak 816 Kepala Keluarga (KK). Jumlah tersebut terbagi menjadi huntara terpusat sebanyak 683 KK dan huntara mandiri sebanyak 133 KK. Pembangunan huntara terpusat di Tapanuli Selatan dikerjakan bersama oleh Danantara, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan BNPB.

Rinciannya, 186 unit huntara di Desa Simarpinggan, Kecamatan Angkola Selatan dikerjakan oleh Danantara dan 245 unit huntara Desa Napa, Kecamatan Batang Toru dikerjakan oleh Kementerian PU. BNPB mengerjakan dua titik huntara terpusat yaitu di Desa Aek Lantong, Kecamatan Sipirok sebanyak 118 unit dan di Desa Simatohir, Kecamatan Angkola Sangkkunur sebanyak 134 unit.

Sementara itu, pembangunan huntara mandiri di lahan milik warga dilaksanakan sepenuhnya oleh BNPB. “Pemerintah menargetkan pembangunan huntara selesai sebelum bulan Ramadan agar para warga terdampak dapat menjalankan ibadah puasa dengan keadaan yang lebih baik dan nyaman,” katanya.

Selain huntara, pengerjaan hunian tetap (huntap) di Tapanuli Selatan juga pararel dilaksanakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Huntap terpusat yang dibangun di wilayah PTPN di Desa Hapesong ini telah berpogres 30 persen dari 227 unit rumah yang ditargetnya.

“Harapannya, pembangunan seluruh huntap dapat rampung pada akhir bulan Maret mendatang,” katanya.

Normalisasi Sungai Batang Toru

Dikatakannya, normalisasi Sungai Batang Toru turut menjadi perhatian BNPB bersama pemerintah setempat. Saat kejadian pada akhir November lalu, debit air sungai meluap hingga menyapu permukiman dan area persawahan warga. Pascabencana banjir bandang tersebut, sungai semakin mengalami pendangkalan yang cukup signifikan dengan menumpuknya material pasir, batu, hingga kayu batang pohon.

Normalisasi sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten Tapanuli Selatan ini telah dimulai sejak 8 Januari 2026 oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sumatra Utara. Hingga Sabtu (24/1/2026) pekerjaan normalisasi sungai masih terus dilakukan.

Sebanyak enam alat berat dikerahkan untuk mengeruk material di badan sungai dan membuat tanggul darurat di sepanjang wilayah Desa Hapesong. Normalisasi sungai Batang Toru merupakan langkah mitigasi bencana mengingat prakiraan musim hujan dan risiko hujan dengan intensitas tinggi yang diprediksi masih dapat terjadi hingga bulan Maret. Upaya ini penting guna mencegah terjadinya luapan di kemudian hari.

Leave A Comment